Pernyataan Sikap Hari Pangan 2017



“Hari Pangan; Apa yang Kita Rayakan?”
Latar Belakang
Dunia memperingati Hari Pangan secara global setiap tanggal 16 Oktober. Secara historis, Dr. Pal Romany Menteri Pertanian dan Pangan Hongaria mencetuskan Ide Perayaan Hari Pangan Sedunia saat acara konferensi umum Organisasi Bahan Makanan dan Pertanian FAO (Food and Agricultural Organization) Perserikatan Bangsa-bangsa bulan November tahun 1979. Dari konferensi tersebut, akhirnya disepakati diadakan peringatan hari pangan setiap tahun di lebih 150 negara. Adapun tujuan diperingatinya hari pangan tersebut, ialah untuk meningkatkan kepedulian terhadap masalah kemiskinan dan kelaparan.   
Peringatan Hari Pangan setiap tahun mengambil tema-tema khusus. Tema Ketahanan Pangan (food securities) adalah tema paling banyak disorot. Kekuatiran dari akan terjadinya krisis/rawan pangan merupakan kontras dari Istilah ketahanan pangan tersebut. Ketahanan Pangan ini diukur dari kemampuan rata-rata individu untuk mendapatkan pangan dan ketersediaannya.

Polemik Krisis Pangan
Harus diakui isu pangan menjangkau spektrum yang luas. Upaya menarik masalah dan memberikan solusi yang sama disemua tempat, nyaris mustahil dan merupakan kesia-siaan. Wajar saja, dua kubu bersilang pendapat terkait masa depan stok pangan. Kedua pandangan masing-masing memiliki landasan berpikir dan solusi yang berbeda. Satu adalah pihak yang melihat dengan optimis tentang masa depan pangan, dan yang kedua adalah mereka yang pesimis.
Di barisan optimis berargumen bahwa tidak ada yang perlu dikuatirkan karena selama ini produksi pangan masih mencukupi kebutuhan kalori seluruh penduduk. Lebih jauh, dari kaum optimis ini berkeyakinan bahwa kebutuhan pangan dengan peningkatan jumlah penduduk senantiasa dalam keadaan seimbang. Kaum optimis hanya mempersoalkan tentang kegagalan dan mekanisme distribusi yang tidak merata atau letak permasalahannya ada pada ketidakadilan.
Beberapa sumber mengatakan apabila kita tidak berada pada masalah kelangkaan pangan melainkan pada lemahnya daya beli. Jadi ada banyak makanan di luar sana, tetapi kemampuan kita untuk membeli makanan (distribusi)-lah yang bermasalah.
 Sementara itu, mereka yang pesimis menilai bahwa saat ini kita mengalami krisis pangan, dan akan menyebabkan situasi rawan pangan ke depan. Kemudian, kaum pesimis ini mendorong dilakukan peningkatan produksi pertanian seperti modernisasi yang memperkenalkan intensifikasi dan ekstensifikasi dalam pertanian, penyerapan bioteknologi, dll.
Krisis pangan ini biasanya merujuk pada semakin bertambahnya mulut dan perut yang harus diisi akibat pertumbuhan penduduk yang cepat, sementara jumlah makanan tetap atau malah menurun. Untuk diketahui bahwa saat ini untuk memberi makan 7 miliar penduduk, yang kalau rata-rata bertumbuh 3% dalam setahun, diperlukan minimal 3% pula untuk menutupi cepatnya laju penduduk ini. Dan tahun lalu, sebuah lembaga internasional Food Security Information Network (FSIN) mengumumkan bahwa ada sebanyak 108 juta orang berada dalam tahap krisis pangan.
Dari beberapa data yang berhasil kami kumpulkan, malnutrisi yang berujung kematian karena pangan di beberapa bagian dunia telah menjadi fakta tak terbantahkan karena berbagai alasan seperti meningkatnya jumlah penduduk, bencana gagal panen, alihfungsi pangan untuk biofuel, peperangan, dll. Fenomena Arab Spring, terjadinya krisis politik seperti Suriah,   atau di Malawi pada tahun 2000-2002 yang membunuh 1500-an orang. Sebagai misal akibat bertambahnya penduduk, dalam argumen kaum pesimis kita ambil data lama pada tahun 1973 dunia dikagetkan oleh kenyataan bahwa produksi pangan dari tahun 1972 hanya naik 1% saja, sementara penduduk bertambah 4%. 

Hari Pangan Dunia Tahun 2017
Dalam tahun ini FAO mengambil tema, “Change the Future Migration: Invest in Food Security and Rural Development”. Latar belakang tema ini adalah terjadinya perpindahan sebanyak 763 juta orang, karena berbagai alasan seperti konflik, kelaparan, kemiskinan dan pergantian iklim yang ekstrim. Kebanyakan orang yang berpindah itu berasal dari desa diantara usia produkti yakni 17-35 tahun. FAO mengajukan gagasan untuk mengupayakan mencegah arus migrasi ini dengan memberikan harapan pada orang yang berpindah untuk dapat bertahan di desa dengan cara melibatkan mereka dalam pertanian terutama sektor bisnis/komersial paska produksi. Harapannya, dari keberhasilan rencana ini akan terjadi pengurangan konflik perebutan sumberdaya, meningkatkan ketahanan pangan, tercipta akses yang lebih baik terhadap perlindungan sosial, memberikan solusi terhadap perubahan lingkungan serta iklim, dan tercipta lapangan kerja yang luas.

Pernyataan Sikap
Dari paparan di atas kami menyatakan sikap terkait hari pangan sebagai berikut;
1.    Perayaan hari pangan di Indonesia dan banyak negara berkembang lebih harus diupayakan pada perombakan masalah ketidakadilan dalam struktur perdagangan timpang. Karena banyak analis menilai, kemunduran ekonomi pertanian kita saat ini lebih banyak dilihat bukan pada kegagalan efisiensi pertanian, melainkan pada struktur perdagangan yang timpang akibat penerapan SAP (Structural adjustment program) yang dipaksakan oleh lembaga donor global IMF dan World Bank.
Dalam poin-poin kesepakatan yang ditandatangani negara penghutang tersebut, inti membuka keran perdagangan yang lebih bebas hambatan dan tarif harus dibuka di dunia ketiga termasuk pertanian (liberalisasi). Alhasil, banjir produk pertanian ekspor yang ironisnyanya di negara maju justru mendapatkan proteksi dan subsidi dari negara, secara pelan memenangkan kompetisi pasar dan jauh ke depan mematikan industri pertanian dalam negeri.
2.    Alih fungsi lahan pertanian ke industri yang masif ditanah-tanah subur melalui kesepakatan jahat birokrat dan kapital mempersempit lahan produksi pertanian. Orientasi negeri agraris harus secara konsisten ditegakkan dengan memperketat perizinan industri untuk manufaktur tersebut. 
3.    Kebiasaan penduduk membudayakan memakan makanan lokal yang lebih menyehatkan dan diproduksi oleh usaha lokal harus terus dilestarikan. Kita telah mengenalnya dengan jajanan pasar. Jajanan ini terbukti lebih natural dan menyehatkan. Pun begitu, agar menjadikan produk ini kompetitif, sentuhan teknologi di pengolahan dan paska produksi harus dimulai. Pemuda desa dan petani adalah fihak yang perlu didorong untuk maju dan mau terlibat dalam sektor ini.

Penutup
Pangan adalah kebutuhan mendasar bagi setiap manusia. Dari perut yang tidak tercukupi pangan dan kelaparan, amarah akan gampang muncul. Kalau dibiarkan kelaparan mewabah, ancaman meningkatnya kriminalitas, bisa dipastikan akan meningkat.  Fenomena krisis pangan memang mencekam dan membayangi kita ke depan.
Dan, momentum hari pangan adalah upaya kita secara global menegakkan kembali hak-hak kita atas kedaulatan pangan dan kemudahan aksesnya. Bahwa kita harus meyakini bahwa pangan adalah kebutuhan, dan bukan barang dagangan yang kalau kita tidak mampu membeli, riwayat kita akan tamat. Dan kalau kita menyepakati bahwa pangan adalah sesuatu yang urgent, secara politik kita perlu memutar kembali arah kebijakan pembangunan menjadikan negara ini menjadi negeri agraris. Pembangunan yang memperhatikan sustainabilitas dan keberlanjutan. Selamat hari pangan. Happy Food day!! 

SPPQT Salatiga
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :