Pasifisme dan Gerakan Kita

Dalam situasi masyarakat krisis, tidak ada pegangan moral yang pasti. Sendi-sendi ekonomi, agama, budaya, sosial dan politik dalam kondisi yang rapuh tak stabil. Sementara nilai lama menua dan nilai baru belum juga mapan, dalam situasi seperti inilah harus diyakini kita berada. Tokoh seperti apa yang bisa kita anut sementara mereka kalah dengan tawaran dan transaksi kepentingan jangka pendek. Ikhtiar melakukan gerakan sosial dalam kondisi masyarakat anomik seperti itulah kita beranjak mulai bergerak.

Berkebalikan dengan ketokohan, kita kembalikan rakyat sebagai sumber yang paling paham kebutuhan,  maupun mencari solusi atas permasalahan. Demokrasi dari bawah, bukan top-down adalah kepercayaan kita. Dalam keqaryah-thayyibahan inilah ideologi besar kita, dimana sumber ide dan pikiran anggota berasal. Dari keqaryah-thayyibahan pula tindakan anggota memperoleh pembenaran. Sebuah kawah candradimuka yang harus terus digali, diperdalam dan diuji.

Gerakan kita berbeda dengan gerakan kaum pasifis yang nekat, bombas dan berorientasi jangka pendek. Kepahlawanan-kepahlawanan kaum pasifis adalah cerita satu dua orang tokoh pembangkit yang cepat tumbuh, namun kemudian mereda dan redam dalam tempo tak lama. Gerakan bakar diri, terorisme individual adalah sedikit contoh strategi kaum pasifis yang alih-alih menakuti kaum lawan, hanya menjadi riak yang tak berpotensi menggelombang.

Dibawah organisasi yang modern dan maju, dimana kesadaran organisasi disadari sebagai sebuah ikhtiar paling masuk akal melawan sistem kapitalisme yang kokoh adalah upaya kaum revolusioner. Kita mengandaikan kuatnya basis yang solid dan tak mudah dikotak dan terpecah. Berkebalikan dengan aktivitas kaum pasifis yang menggerombol dan setengah-setengah dalam mengidentifikasi lawan, kaum revolusioner secara tepat berhasil mengidentifikasi musuh sekaligus mencarikan solusi paling tepat dalam memulai perlawanan. Kita diajarkan untuk menempa diri kita dalam penjelajahan teori dan praktik.

Dalam masa-masa sulit seperti saat sekarang, kita perlu sadari bahwa kapitalisme adalah akar sementara krisis adalah hasil, sehingga kita tidak kehilangan target sasaran yang ingin kita runtuhkan. Tanah-tanah kaum tani yang dijarah tuan tanah baik negara atau pemerintah, dan kaum buruh yang tenaga dan hasil kerjanya dicuri oleh pemilik modal harus tahu bahwa kontradiksi pokok yang ingin mereka rubah adalah pada kepemilikan alat produksi. Tanah yang diambil dan dijarah baik oleh tuan tanah ataupun pemodal, harus dikembalikan pada penggarap dan tidak bisa digantikan dengan pemberdayaan palsu.

Dari segelintir orang memiliki semua, menjadi semua memiliki semua. Dan dari organisasi revolusioner yang tidak berwatak pasifis tersebutlah kita songsong perubahan nasib.

SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :