Perempuan Sumber Rejeki Sragen Lakukan Penguatan Kelompok


Gunung Sono, Sragen. Polemik kehidupan petani tidak hanya dihadapi kaum laki-laki melainkan juga terhadap perempuan. Kategori berdaulat dengan segala kemandirian perlu diwujudkan bagi kelompok perempuan atau sering disebut Kelompok Wanita Tani (KWT). Salah satunya Kelompok Sumber Rejeki Gunung Sono, Kedung Ombo Kec. Sragen. Hal ini sebagaimana terungkap dalam pertemuan ke-2 yang berlangsung pada Sabtu (20/5).
Pertemuan ini  dihadiri oleh 15 orang. Keinginan untuk mengakomodir rekan-rekannya cukup kuat, namun tidak mudah menyelaraskan tujuan maupun gerakan melihat adanya beberapa hambatan. Ketakutan untuk berkelompok masih ada, begitulah yang dialami Darni selaku ketua.
Sumber rejeki dibentuk pada 15 April 2017 dan terdiri dari 25 anggota. Badan Pengurus Harian (BPH) telah terpilih mulai dari ketua, sekretaris, dan bendahara akan tetapi tidak ter-manage dengan baik. Selain anggota yang sulit digerakkan, managemen organisasi belum tertata rapi, begitu juga dengan kegiatan produksi pemanfaatan potensi lokal.
Singkong salah satu potensi di desa belum dioptimalkan. Warga pernah memiliki usaha tetapi tidak produktif. Hingga saat ini hanya Darni yang masih memproduksi keripik singkong meski belum menjangkau wilayah lebih luas. “Kalau diproduksi sendiri atau pertemuan hanya sebatas ditambah bumbu perasa, ketika dipasarkan keluar desa saya tambah gula jawa,”tambahnya.
Kegiatan rutinan bagi perempuan masih sebatas arisan, belum ada pembahasan seputar kajian perempuan atau berdiskusi untuk menyelesaikan masalah bersama. Sukamto mengawali pertemuan dan membina kelompok agar menguatkan kembali barisan dengan mengidentifikasi permasalahan. Pada proses berjalannya diskusi warga meminta untuk didampingi dalam pengolahan bahan produksi, bagaimana membuat tekstur keripik menjadi renyah. Variasi resep rasa, model pengemasan supaya lebih menarik, dan pemasaran.
Terkait keperempuanan mengenai masalah reproduksi, pemberdayaan, pangan, disampaikan oleh Hani. Menurut Hani perempuan harus berdaya baik dalam pengetahuan, kemandirian ekonomi, maupun pastisipasi dalam pengambilan keputusan di desa. Menjadi teladan bagi putra-putrinya dengan kelebihan maupun keaktifan yang dimiliki. Kesehatan reproduksi turut disampaikan terkait dengan penyakit seperti kanker serviks, siklus menstruasi, KB dan anggota belum menyadari terkait dengan sesuatu yang ada dalam diri perempuan. “Pekerjaan kami dan tentunya permasalahan dalam keluarga yang cukup rumit sehingga tidak sempat untuk memperhatikan hal-hal tersebut,”ujar hanik dalam forum itu.

Pendampingan akan dilanjutkan setelah lebaran dengan beberapa praktek dan pembinaan. Selain itu, Sukamto juga menghimbau agar ibu-ibu mendorong pemudi untuk bergabung dalam forum. Melihat kondisi remaja putri disekitar merantau sebagai buruh pabrik pulang satu minggu sekali. Harapan selanjutnya selain produktivitas warga dan terwujudnya ekonomi mandiri mampu meminimalisir dan memberdayakan remaja putri didesanya. ED/RR
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :