Kepompong Desa itu bernama Wlahar Wetan

Oleh:Dewi Hutabarat

Desa Wlahar Wetan, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sekitar 30 menitan dari kota Purwokerto, kemarin panen raya perdana padi organik hasil tanam kelompok tani desa yang dilaksanakan secara mandiri oleh desa.

Apa itu maksudnya "secara mandiri"?

Desa Wlahar Wetan adalah potret desa yang tengah melaksanakan proses pengembangan kemandirian hampir sepenuhnya dengan kekuatan dan sumber daya yang ada pada dirinya sebagai desa. Diawali dari pertemuan antara Kepala Desanya yang masih muda dan progresif Dodiet dengan seorang penggiat gerakan masyarakat Heri Kristanto yang tergabung dalam Forum Desa Mandiri Tanpa Korupsi (DMTK). Heri penasaran ingin mencoba menerapkan apa-apa yang didiskusikan di Forum DMTK. Mendorong proses kemandirian dan kedaulatan desa, yang substansial, tidak palsu artificial, dan sungguh-sungguh mewujudkan kedaulatan desa. Sekaligus memanfaatkan momentum UU Desa dan dikembalikannya HAK DESA atas Dana Desa, yang semestinya sepenuhnya berada pada kendali kedaulatan desa.

Heri mengajak Dodiet yang menyambut antusias karena sesuai dengan visi misinya sebagai Kepala Desa. Langkah satu pun diayunkan. Musyawarah dengan Kepdes dan beberapa "aktivis desa" memutuskan: membangun kemandirian dan kedaulatan desa dimulai dari kemandirian dan kedaulatan Pangan. Untuk itu TIDAK ADA CARA LAIN kecuali: mengembalikan pertanian desa pada metoda pertanian yang organik, selaras dan melindungi alam.

Mengapa HARUS kembali pada pertanian organik yang selaras dan melindungi alam? Apa hubungannya dengan membangun kemandirian dan kedaulatan?

Pertama, proses pertanian organik memastikan pengembalian kualitas daya dukung tanah dan ekosistem pertanian yang selama ini dirusak oleh penggunaan pupuk, pesti kimia dan benih pabrikan (GMO). Maka: hasil produksi meningkat, dan yang dihasilkan adalah pangan berkualitas kesehatan yang tinggi.

Kedua, proses pertanian organik juga berarti membangun kemandirian petani. Mandiri dalam penyediaan pupuk dan pesti organik, kemandirian dalam meningkatkan kualitas daya dukung alam untuk meningkatkan hasil produksi pertanian. Singkat kata: mustahil membangun kemandirian dan kedaulatan petani tanpa menggunakan metoda pertanian organik. Dengan kata lain, selama bukan Pertanian Organik yang dibangun sebagai basis pertanian di Indonesia, maka selama itu pula sama dengan memelihara ketergantungan petani (dan desa) pada korporasi saprotan.

Ada berbagai metoda pertanian organik. Yang dilaksanakan di Wlahar Wetan adalah metoda SRI (System Rice Intensification) dengan pendamping teknis utama Wahyudi Wong Tani Uthon. Dari ketua kelompok tani saya mendapatkan informasi bahwa produksi pertama setelah beralih dari metoda konvensional ke organik ini meningkat sekitar berkali lipat, dilihat dari: tiap 1 benih yang ditanam, menghasilkan sampai 20 malai, padahal dengan konvensional paling hanya 5 malai.

Bukan hanya itu, tiap bulir gabah yang dihasilkan pun berasnya gendut dan padat. Dengan konvensional dulunya bulir sering kompong alias isi gabah kosong atau padi yang kurus. Belum ketahuan total hasil panen karena belum seluruh luasan yang ditanam organik dipanen. Dan pada panenan dari penanaman-penanaman selanjutnya hasil produksi akan terus bertambah karena daya dukung tanah dan ekosistem semakin mendukung.

Apakah pengetahuan dan teknis ketrampilan pertanian organik ini adalah segala-galanya untuk membangun kemandirian petani dan desa? TIDAK.

Dalam proses membangun kemandirian petani desa di Wlahar wetan yang menjadi keharusan dan faktor penentu dari terbangunnya kemandirian petani dan masyarakat desa adalah: pengorganisasian masyarakat desa dalam kelompok-kelompok yang menjadi sarana belajar dan berproses bersama. Dalam proses pengorganisasian masyarakat ini dibangun pula keterkaitan dengan multi stakeholders yang dirasa penting untuk mendukung dan mempercepat pengembangan kapasitas kelompok-kelompok warga.

i Wlahar Wetan, proses pengorganisasian petani warga desa didorong oleh aktivator eksternal dan fasilitator internal. Aktivis "luar desa" (aktivator eksternal) semacam Heri, adalah pihak yang memantik proses pengorganisasian warga. Menghadirkan strategi dan teknik pengorganisasian untuk dikembangkan dan diadaptasikan sesuai kondisi di dalam desa. Termasuk, menghadirkan narasumber pengetahuan pertanian organik yang diperlukan, seperti pendamping pertanian organik Wahyudi beserta beberapa "kader pendamping" yang ikut live-in bersama penduduk desa.

Namun aktivator eksternal desa tidak akan banyak berarti bila tidak disambut antusias oleh aktivis "di dalam desa" (fasilitator internal). Di Wlahar Wetan, aktivis utamanya adalah Pak Kades Dodiet. Diikuti oleh Ketua Kelompok Tani dan sekelompok petani yang lain. Perpaduan semangat dan konsistensi dalam proses pengembangan kemandirian pertanian organik di desa Wlahar Wetan pun menghasilkan sebuah titik sukses berupa syukuran panen raya kemarin.

Syukuran di Wlahar Wetan kemarin ini tidak main-main lho. Yang hadir adalah kumpulan "aktivis" kemandirian desa dari Jakarta, Bogor, indramayu, Cilacap, Karanganyar, Jepara, Salatiga, Surabaya, Malang, Jember, Madura, Sumatra Selatan. Semua hadir dengan inisiatif mandiri, biaya urunan dan tanpa komando dari siapa-siapa. Kehadiran yang bermakna setidaknya dua.

Pertama, sebagai bentuk dukungan dan kegembiraan dari jejaring "kemandirian desa" kehadiran para aktivis adalah pameran semangat dan tekad untuk membangun kemandirian petani dan desa, menyatu saling menguatkan. Kedua, pertemuan menjadi ajang saling membandingkan pengetahuan dan pengalaman. Proses saling menguatkan dalam bentuk pertukaran informasi dan diskusi, tak ternilai harganya bagi setiap yang hadir.

Panen raya beras organik di Wlahar Wetan mungkin tampak seperti noktah, setitik bagian dari proses membangun kemandirian petani dan desa. Tapi bila pandai pemerintah memetik pelajarannya, maka dengan mudah dapat diuraikan, dan dihitung. Bahwa: membangun kemandirian desa itu MUSTAHIL bila bukan melalui proses yang melibatkan partisipasi warga yang maksimal. Proses peningkatan kapasitas, pembangunan kesadaran kritis, melalui kelompok-kelompok warga yang berproduksi dan mengelola sumber daya di desanya, adalah proses yang TIDAK BISA DITAWAR bila memang kita betul-betul ingin membangun kemandirian dan kemajuan desa.

Untuk desa dengan CEPAT bisa mengejar ketertinggalannya, segera menunjukkan "naik kapasitas sumebr daya manusia"nya, segera menuju kemandirian, segera meningkat produksinya (apapun yang ia produksi dan sumber daya yang dimiliki), HANYA BISA DILAKSANAKAN melalui proses intens kelompok-kelompok swadaya warga yang berproduksi dan mengelola sumber daya desanya. Tidak bisa dilaksanakan melalui proses instan berupa pendirian badan usaha milik negara di desa-desa, apalagi menghadirkan korporasi besar sebagai seolah malaikat penolong tapi malah mengebiri keberdayaan warga masyarakat desa, seperti yang selama puluhan tahun ini SUDAH TERJADI.

Desa Wlahar Wetan yang berproses kurang dari setahun sudah bisa "melompat" dari desa yang pertaniannya serba tergantung pada subsidi, dengan hasil produksi yang mengenaskan, kondisi tanah yang rusak parah akibat pupuk dan pesti kimia pabrikan bertahun lamanya, kini panen raya beras organik. Keberjaringan dengan Koperasi Kopkun di Puwokerto yang dipimpin oleh Firdaus Putra sudah menyediakan jalur pemasaran yang cukup kokoh untuk wilayah Purwokerto dan sekitarnya, dengan catatan: Wlahar Wetan hanya menjual SURPLUS produksi beras mereka, kelebihan hasil setelah semua warga Wlahar Wetan terpenuhi kebutuhan konsumsi berasnya.

Wlahar Wetan sedang berproses sebagai Kepompong, tengah bermetamorfosa demi menjadi Desa yang mandiri dan berdaulat. Bila proses seperti yang dilaksanakan di Wlahar Wetan ini dijadikan inspirasi, diformulasikan secara cukup fleksibel dan dapat diadaptasikan sesuai kondisi di masing-masing desa, maka tidak sulit untuk memprediksi dalam 2 tahun ke depan Indonesia akan berhasil meningkatkan kapasitas dan "Status" dari semua desa di Indonesia. Plus, kedaulatan pangan menjadi tidak sesulit itu, dalam 2 tahun kita akan berdaulat bukan hanya beras, tapi juga sayur mayur, buah-buahan, protein nabati hewani dari darat maupun laut. Berdaulat pangan dan gizi menjadi keniscayaan bagi bangsa kita yang kaya raya ini, bila proses metamorfosa kepompong terjadi di semua desa di Indonesia.

Tapi bila masih saja pemerintah tidak mampu menarik pelajaran dari contoh kecil semacam Wlahar Wetan ini, masih bertahan dengan pemikiran yang melihat desa hanya sebagai obyek, lebih cilaka lagi hanya dilihat sebagai OBYEK EKONOMI, maka artinya kita akan siap-siap menanggung KEGAGALAN yang masih dan tak tertanggungkan pada 2 tahun ke depan. Gini Ratio di desa-desa akan melesat tak terkendali. Modal sosial makin hancur, modal produksi dan modal finansial di desa akan makin melemah. Belum lagi akan makin liarnya pengalihan kekuasaan atas sumber daya desa, yang selama ini sudah menghasilkan konflik di ribuan desa, akan makin meluas tak terkira.

Kita ingin membangun kemandirian desa bukan? Mari belajar dari proses di Wlahar Wetan (yang baru dimulai, masih perlu terus dikembangkan dan didampingi secara intens), dan dari berbagai desa lainnya yang telah dan terus melaksanakan proses semacam ini.

Jangan lagi-lagi kita, berbagai pemangku kepentingan yang terkait dengan apa yang terjadi di desa, baik pemerintah maupun berbagai elemen masyarakat lainnya, mengulang sejarah: salah menganalisa, salah menyusun strategi, salah memperlakukan desa, berujung pda kehancuran, ketertinggalan, kemiskinan dan kesenjangan di desa. UU Desa sudah memberi ruang keinsyafan. Mari insyaf berjamaah untuk sungguh-sungguh mengembalikan kemandirian dan kedaulatan desa.

Salam Desa (dan Pangan) Berdaulat!!

*Penulis adalah pegiat DMTK (Desa Mandiri Tanpa Korupsi)
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :