Serikat Paguyuban Petani Qoryah Thayyibah : Dalam Solidaritas dengan Petani Kendeng



Atas nama Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah yang berkantor di Salatiga, Jawa Tengah kami menyatakan bersolidaritas dan memberikan dukungan penutupan tambang semen yang diproduksi oleh PT Semen Gresik (yang kemudian berganti namanya menjadi PT Semen Indonesia) di kawasan Karst Pegunungan Kendeng Utara, Rembang, Jawa Tengah. Kami berkeyakinan bahwa apa yang diperjuangkan oleh sedulur petani Kendeng, Blora, Jawa Tengah semenjak beberapa tahun lalu untuk menolak penambangan semen adalah sesuatu yang benar, bahwa pendirian pabrik semen adalah akar dimana kemudian krisis sumber daya alam, lingkungan dan masa depan nasib petani dan anak cucu orang Kendeng dipertaruhkan.

Mengecam Gerakan Rakyat Pro-Modal
Solidaritas ini terkait dengan pemberitaan di salah satu media massa lokal tertanggal 28 Desember 2016 dengan tagline “Massa Pro dan Anti-Pabrik Semen Saling Berhadapan”. Kiranya, peristiwa demonstrasi berisi para pendukung semen ini meyakinkan kita bahwa korporasi dan kekuasaan telah berselingkuh untuk mengaburkan esensi permasalahan. Bahwa dalam keyakinan para pendukung pendirian pabrik semen yang berkeyakinan “adanya pabrik semen di Rembang karena membawa manfaat dan berdampak positif terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan budaya bagi masyarakat setempat”, adalah ‘semu’, palsu dan keliru.
SPPQT meyakini bahwa ternyata gerakan petani penolak tambang yang kebanyakan adalah kaum perempuan ini lebih jernih dalam melihat permasalahan. Bahwa pengorbanan Kartini dari Kendeng yang menyemen kakinya adalah simbol nyata betapa, kehadiran semen akan mematikan kehidupan kaum tani di kendeng, Kab. Rembang. Mereka lebih sadar bahwa apa yang dilakukan oleh para warga yang melakukan aksi dukungan adalah orang yang keliru dan berdiri di pihak yang salah.

Pemerintah ‘Ojo Lamis’
SPPQT juga menyayangkan laku dan sikap pemerintah daerah yang tidak mengindahkan amar putusan MA tertanggal 5 Oktober 2016 yang berisi pencabutan izin pembangunan semen PT Semen Indonesia di Kendeng, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Alih-alih mematuhi aturan
Fakta lapangan, bahwa sampai detik ini, proses pembangunan pabrik semen masih berlangsung mengindikasikan bahwa pemerintah yang seharusnya bekerja dengan undang-undang telah ‘mengangkangi’ apa yang seharusnya mereka taati. Gugatan yang berhasil membatalkan pencabutan izin semen oleh MA harus dijalankan dan pemerintah daerah dengan mencabut izin. Pemerintah provinsi harus membuktikan bahwa mereka tidak boleh bermain mata dengan para kapitalis semen.

Krisis Kapitalisme dan Perlunya Aliansi Kerakyatan
SPPQT berkeyakinan bahwa pendirian pabrik semen dimanapun adalah tergolong proses yang mana muaranya adalah menghabisi ‘habitus’ dan kebiasaan bertani penduduk setempat atau secara konseptual disebut akumulasi primitif. Dan secara internasionalis, apa yang tengah berlangsung ini tidak dapat dilepaskan dari situasi krisis dalam kapitalisme yang  mengharuskan imperialisme ekonomi dan membutuhkan daerah ‘perawan’ untuk dikeruk. Dan dalam konteks ini, ancaman terhadap petani adalah sesuatu yang pasti.
SPPQT bersolidaritas dan menghimbau kepada organisasi tani dan progresif revolusioner lain di Indonesia terutama Jawa Tengah untuk bersatu melawan gempuran kapitalisme yang mengatasnamakan pembangunan. SPPQT melihat perlunya segera dibentuk aliansi taktis  agar  kasus-kasus semacam yang menimpa saudara kita di  Kendeng dapat dihentikan.
Lawan pemerintahan zalim!
Tolak investasi yang mencerabut petani dari tanah!
Kuatkan barisan tani!

SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :