Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah : Dalam Solidaritas dengan Petani Kendeng


Atas nama Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah yang berkantor di Salatiga, Jawa Tengah kami menyatakan bersolidaritas dan memberikan dukungan Penutupan tambang semen yang diproduksi oleh PT Semen Gresik (yang kemudian berganti namanya menjadi PT Semen Indonesia) di kawasan Karst Pegunungan Kendeng Utara dan Kendeng Selatan -khususnya Rembang, Jawa Tengah sebagai Kabupaten paling terdampak. Kami berkeyakinan bahwa apa yang diperjuangkan oleh sedulur tani Kendeng sejak Tahun 2013 lalu menolak penambangan semen adalah perlawanan petani sejati. Bahwa pabrik semen menjadi simbol ketamakan, kejahatan dan kerakusan korporasi yang berkroni dengan penguasa. Industri semen akan menimbulkan krisis sumber daya alam, sosial, budaya, lingkungan dan mengancam masa depan anak-cucu kaum tani Kendeng kelak.

Mengecam Gerakan ‘Pendukung’ Pabrik Semen
Solidaritas ini terkait dengan pemberitaan di salah satu media massa lokal tertanggal 28 Desember 2016 dengan tagline “Massa Pro dan Anti-Pabrik Semen Saling Berhadapan”. Kiranya, munculnya demonstrasi para pendukung semen ini meyakinkan kita bahwa korporasi dan kekuasaan di belakang panggung telah memainkan skenario mengadu domba kaum tani, berikut aktivis tani agar saling bertikai sehingga kekuatannya melemah, dan berakhir pada pendirian pabrik. Kaum modal sadar, bahwa kaum tani memang terdiri dari kelas-kelas dengan kepentingan yang beragam dengan derajat kesadaran yang berlainan dan bisa jadi saling berkontradiksi. Namun, sebagai obyek atas semen, petani Kendeng harus tidak boleh dipecah-belah dengan issue-issue atau uang. Penolakan pendirian pabrik adalah harga mati yang tidak boleh padam disuarakan. Kaum tani harus membuktikan bahwa mereka menolak penindasan oleh setan modal dan kuasa!
Keyakinan para pendukung pendirian pabrik semen yang berkeyakinan “adanya pabrik semen di Rembang karena membawa manfaat dan berdampak positif terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan budaya bagi masyarakat setempat”, adalah ‘semu’, palsu, berjangka pendek dan keliru. SPPQT menyatakan bersimpati, pada pengorbanan Kartini dari Kendeng yang beberapa waktu lalu melakukan aksi menyemen kakinya sebagai simbol nyata betapa, kehadiran semen akan ‘menyemen’ nasib kehidupan papa kaum tani di kendeng, Kab. Rembang.

Pemerintah ‘Ojo Lamis’
SPPQT juga menyayangkan laku dan sikap pemerintah daerah yang tidak mengindahkan amar putusan MA tertanggal 5 Oktober 2016 yang berisi pencabutan izin lingkungan pembangunan PT Semen Indonesia (Persero) di Kendeng, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Bahkan Gubernur telah menerbitkan Ijin Lingkungan yang baru pada 9 November 2016.
Sekali lagi, ditengah kondisi petani Indonesia yang miskin tanah dan bercirikan kepemilikan tanah kecil-kecil (dibawah 0,2 Ha), sama artinya pemerintah telah menyerahkan kepala kaum tani kepada kapitalis.
Fakta lapangan, bahwa sampai detik ini, proses pembangunan pabrik semen masih berlangsung mengindikasikan bahwa pemerintah yang seharusnya bekerja dengan undang-undang telah ‘menghianati’ norma dan peraturan yang harusnya mereka taati. Bukti gugatan membatalkan pencabutan izin semen oleh MA harus dijalankan dengan mencabut izin pembangunan pabrik Semen di kawasan Kendeng, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Negara harus menghargai hukum adat, tidak menjadikan tanah rakyat sebagai komoditas, dan membuktikan bahwa mereka tidak hanya menjadi kaki-tangan industrialis Semen.

Krisis Kapitalisme
SPPQT berkeyakinan bahwa pendirian pabrik semen dimanapun adalah tergolong proses yang mana muaranya adalah menghabisi ‘habitus’  bertani penduduk setempat atau akumulasi primitif. Kehadiran pabrik semen, secara sosial akan mengalihkan pekerjaan warga lokal dari petani menjadi buruh/kuli pabrik. Dan secara internasionalis, apa yang tengah berlangsung ini tidak dapat dilepaskan dari situasi krisis dalam kapitalisme yang didorong untuk terus untung. Mereka harus melakukan perambahan, perluasan daerah jajahan untuk pasar, atau mengeruk sumber daya alam dan manusianya.

Perspektif Reforma Agraria
SPPQT melihat bahwa gerakan petani Kendeng tidak terbatas pada soal  mendukung atau menolak. Apakah setelah pabrik ini berhenti beroperasi kemiskinan dan tindasan pada kaum tani akan selesai? Nah, berangkat dari masalah ini dalam skala yang lebih luas dan jangka panjang, negara harus menyadari bahwa pembangunan pedesaan tidak bisa lepas pada upaya ‘ngudari’ konsentrasi kepemilikan tanah yang saat ini dinikmati segelintir tuan tanah kaya, atau lahan-lahan negara dan swasta, untuk diberikan pada rakyat tani. Negara harus mafhum, bahwa satu langkah keberhasilan menghentikan korporasi semen harus disusul dengan upaya penegakan Reforma Agraria Sejati.

Perlunya Aliansi Kerakyatan
SPPQT bersolidaritas menyambut dan mengajak segenap organisasi tani, buruh, mahasiswa di Indonesia terutama Jawa Tengah untuk melawan gempuran kapitalisme yang ‘bermetamorfosa’ mengatasnamakan pembangunan. Sudah menjadi konsekuensi dari skema pembangunan bersumber dari hutang yang dianut oleh penguasa, sehingga project-project kapitalis tak hirau perspektif lingkungan, yang mencerabut lahan rakyat akan berlangsung.
SPPQT mempercayai bahwa kelas petani penggarap adalah subyek terdepan dalam menyongsong perombakan tatanan atau revolusi tani. Petani penggarap diberi senjata kesadaran kelas revolusioner karena tindasan dalam tatanan agraria yang eksplotatif. Saat-saat tanah tuan kaya dijual, bagi penggarap tidak ada lahan garapan dan harapan lagi. Dalam konteks industri, ke depan pemiskinan petani penggarap akan menjangkit kelas petani kaya yang sudah tak lagi punya tanah sebagai alat produksi utama kaum tani.
SPPQT mendukung terbentuknya aliansi taktis, agar  kasus semacam yang menimpa saudara kita di  Kendeng berhenti dan solusi dalam bentuk penegakan Reforma Agraria, utamanya di Jawa Tengah segera direalisasi.
Tolak investasi yang mencerabut petani dari tanah!
Laksanakan Reforma Agraria Sejati amanat UUPA 1960!
Tanah untuk Petani Penggarap!
Sadhumuk Bathuk Sanyari Bhumi!
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :