Pengaruh visi organisasi dalam perjuangan SPPQT 2008-2016

Visi dan misi

oleh : mujab



SPPQT memiliki visi yang belum berubah sepanjang 3 kali RUAS (Rapat Umum Anggota Serikat) yaitu RUAS tahun 2008, 2012 dan 2016. Visi ini menjadi referensi, memberikan inspirasi, doa dan arah yang belum terlihat karena mungkin masih terlalu jauh atau terlalu tinggi. Namun rupanya visi ini telah mengilhami sejumlah pegiat SPPQT untuk bekerja keras sehingga terwujud langkah dan capaian organisasi dalam kurun waktu tersebut.

Visi SPPQT adalah terbangunnya peradaban baru bangsa Indonesia berbasis kepada pertanian sehingga terbentuk masyarakat yang adil dan makmur bagi petani dan seluruh rakyat Indonesia. Visi ini melampaui batas-batas gagasan dan pemikiran dari sebuah organisasi tani yang kadang hanya berkutat pada persoalan petani dan pertanian saja. Visi ini seakan menjelaskan gagasan terdalam Qaryah Thayyibah terkait terwujudnya desa yang indah yang dari sanalah muncul istilah membangun Indonesia dari desa, sehingga peradaban baru bangsa Indonesia akan terwujud.

Visi ini merupakan peningkatan grade dari visi sebelumnya yaitu mewujudkan masyarakat tani yang tanggung yang mampu mengelola dan mengontrol segala sumber daya yang tersedia beserta seluruh potensinya sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan dan kelestarian lingkungan serta keadilan relasi laki-laki dan perempuan. Misi ini merupakan narasi keinginan SPPQT yang wilayahnya masih di ranah petani yaitu mewujudkan masyarakat tani yang tangguh dan seterusnya. Di tahun 2008 SPPQT merasa bahwa perjuangan petani tidak semuanya bisa ditempuh dari ranah petani karena beberapa aspek kehidupan petani dipengaruhi dan dikontrol melalui ranah lain. Misalnya ranah politik, ranah kebijakan dan lain sebagainya. Maka visi organisasi SPPQT akhirnya ditingkatkan ranahnya, dari perwujudan masyarakat tani yang tangguh menjadi perwujudan peradaban baru bangsa Indonesia.

Kini setelah menginjak tahun 2017 bisa dilihat visi itu telah mendorong pegiat SPPQT bekerja keras dan mencatatkan capaian penting dan tidak sedikit. Diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Di tahun 2008 itu pula program pengembangan Multi purpose Community Telecenter (MCT) dimulai setelah pembicaraan panjang SPPQT dengan JSDF yang cukup lama karena perdebatan konsep. Program penguatan masyarakat tani melalui akses informasi ini yang konsep awalnya hanya 1 titik dengan 2 titik satelit kemudian diubah konsepnya oleh SPPQT menjadi 15 titik dengan beaya yang kurang lebih sama. Uniknya kemudian dalam pelaksanaannya yang terbentuk bukan 15 tapi 20 MCT di 20 Paguyuban Petani Anggota SPPQT. MCT ini kemudian menjadi cikal bakal lahirnya ortanisasi pemuda bernama Lumbung Sumber Daya (LSD). Pasca RUAS tahun 2012 kemudian dilaksanakan kongres pemuda SPPQT dan lahirlan LSDP-QT.
  2. Masih di tahun yang sama SPPQT mulai mengembangkan website. Website tersebut sebenarnya dirancang untuk website berita dan pengetahuan sekaligus sebagai website data dan potensi anggota SPPQT. Website tersebut beralamatkan di sppqt.or.id. Bersamaan dengan diluncurkannya website ini kemudian dimulailah program pendataan kembali segenap anggota dan potensi. Hasil pendataan ini diharapkan bisa diinput dan kemudian bisa diakses via website tersebut.
  3. Di ranah kebijakan SPPQT juga mendasarkan visi tersebut untuk menyusun perjuangan organisasi. Kemudian SPPQT aktif dalam gerakan-gerakan reforma agrarian. Diantaranya adalah aktif di konsorsium pembaharuan agraia (KPA). Tercatat sejak tahun 2008 SPPQT menempatkan kader terbaiknya sebagai coordinator KPA Jawa tengah sebanyak dua kali. Ini menjadi salah satu indikasi bahwa gerakan reforma agrarian menjadi gerakan penting bagi SPPQT dan petani.
  4. Konsep desa sebenarnya menjadi konsern penting Qaryah Thayyibah bahkan sejak lembaga ini berdiri di tahun 1999. Persoalan desa kemudian mendapatkan momentum saat pemerintah republic Indonesia menetapkan UU desa di tahun 2014. UU ini kemudian membuka pintu komunikasi antara SPPQT dengan pemerintah republic Indonesia, hal yang jarang bisa diraih oleh organisasi lain. Gagasan tentang desa bedikari kemudian menjadi wacana yang cukup kencang di tingkat propinsi jawa tengah dan nasional sehingga akhirnya SPPQT diundang oleh presiden RI Joko Widodo untuk memaparkan konsep desa berdikari tersebut agar bisa direplikasi di 70 ribu desa lain di Indonesia. Harapan membangun peradaban baru bangsa Indonesia dari desa semakin terbuka lebar pintunya.
  5. SPPQT juga mengembangkan konsep pemberdayaan masyarakat yang agak berbeda dari yang telah dikembangkan sebelumnya. Kali ini dengan mengembangkan konsep jamaah produksi. Jamaah produksi ini merupakan kelompok usaha produktif berbasis RT dan berupaya membangun sekelompok orang yang produktif dari potensi yang ada disekitarnya. Selain itu kelompok ini juga dikembangkan menjadi kelompok kritis di masyarakat melalui pertemuan rutinnya sehingga selain menjadi kelompok produksi juga menjadi control atas pelaksanaan pembangunan di desanya. Harapannya akan terbangun kedaulatan politik warga desa, keberdikarian ekonomi dan memiliki budaya kritis dan humanis.
  6. SPPQT juga telah menjalin kerjasama dengan KPK terkait konsep pencegahan tindak pidana korupsi yang berpotensi terjadi seiring dengan mulai bergulirnya dana desa sebagai konsekuensi pelaksanaan UU desa. Tidak banyak lembaga petani yang menjalin kerjasama dengan KPK dalam rangka pengembangan dan pengupayaan pencegahan tindak pidana korupsi. Dalam prakteknya SPPQT telah didatangi ketua KPK Abraham Samad saat peremian gerakan jamaah produksi. Selain itu SPPQT juga melaksanakan workshop pencegahan tindak pidana korupsi bersama dengan deputi pencegahan KPK.
  7. Di bagian lain SPPQT telah mempresentasikan konsep pengelolaan hutan oleh organisasi tani atau organisasi rakyat. Konsep ini diberi judul agro silvo pastoral dan dipresentasikan di hadapan Kepala Kantor Staf Presiden republic Indonesia di Jakarta. Ini merupakan konsep kedua yang telah di sodokkan ke pusat kekuasaan negeri ini dalam rangka bagian dari membangun peradaban bangsa.
  8. Pengembangan sumur resapan di Kota Salatiga, Kab Semarang dan Kab Magelang. Di tingkat anggota selain pengembangan 20 MCT atau LSD SPPQT juga telah mengembangkan sumur resapan sebagai bagian dari kerja-kerja konservasi dan pelestarian lingkungan hidup. Saat ini SPPQT sudah membangun 930 unit sumur resapan di tahap I dan 865 unit SR di tahap II. Kerja pengembangan sumur ini memerlukan beaya besar, pendekatan yang khas dan tepat, serta kerja jangka panjang yang tidak terputus. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya SPPQT mengerjakan sebuah pekerjaan dengan jumlah yang puluhan apalagi ratusan. Semua memerlukan beaya. Akan tetapi visi SPPQT yang mungkin menjadi doa ini telah menginspirasi pegiat SPPQT dan mengantarkan SPPQT sehingga bisa membangun sumur resapan sebanyak 1795 unit bersama masyarakat di mana sumur tersebut berada.
Itulah sebagian dari perjuangan organisasi SPPQT yang mengacu dan bersandar dari visi organisasi yang telah di rumuskan semenjak tahun 2008 dan masih terus dipakai serta kembali ditetapkan sebagai visi organisasi dalam RUAS tahun 2016 kemarin.

*mujab: pegiat sppqt
gambar: http://stiatabalong.ac.id/statis-2-visidanmisi.html
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :