Meneguhkan Visi Gerakan Perjuangan SPPQT


Petani memindahkan bibit padi

oleh mujab



SPPQT berdiri berangkat dari kesadaran bahwa petani Indonesia masih terpinggirkan dari upaya bangsa indonesia mengembangkan kehidupan nya. Selain itu juga berangkat dari kesadaran bahwa kondisi petani sendiri masih miskin, tertindas dan begitu banyaknya persoalan yang dihadapi. Hal ini sedikit mengganggu untuk mengembangkan keberdayaannya dan berkontribusi serta duduk setera dengan elemen lain untuk membangun peradaban bangsa Indonesia.

Sejarah mencatat bahwa peran pertanian cukup besar dalam pengembangan peradaban. Bangsa Mesir mencatatkan bahwa mereka membangun peradaban bermula dari daerah-daerah subur karena berkah sungai Nil dengan mengembangkan pertanian yang massif sehingga kerajaan firaun bisa berdiri megah. Kisah Yusuf yang berhasil menembangkan irigasi dan lubung dalam rangka antisipasi atas perubahan cuaca dan iklim adalah gambaran gamblang bagaimana ilmu pertanian telah begitu tinggi berperan mengembangkan peradaban Mesir kala itu.

Bangsa Mesopotamia mengembangkan peradaban mereka karena berkah sungai eufrat dan tigris sehingga tercukupi kebutuhan air pertaniannya. Dari sana pertanian bisa berkontribusi membangun peradaban kawasan timur tengah itu. Daerah ini dikenal dengan biladun rofidain atau daerah diantara sungai-sungai. Sebutan lain adalah daerah bulan sabit subur karena kawasan ini seperti membentuk bulan sabit dengan satu ujung di teluk Persia dan ujung satunya di kawasan Israel.

Para ahli prasejarah umumnya bersepakat bahwa pertanian pertama kali berkembang sekitar 12.000 tahun yang lalu dari kebudayaan di daerah "bulan sabit yang subur" di Timur Tengah sebagaimana di sebutkan di atas tadi. Bukti-bukti yang pertama kali dijumpai menunjukkan adanya budidaya tanaman biji-bijian (serealia, terutama gandum kuna seperti emmer) dan polong-polongan di daerah tersebut. Pada saat itu, 2000 tahun setelah berakhirnya Zaman Es terakhir di era Pleistosen, di dearah ini banyak dijumpai hutan dan padang yang sangat cocok bagi mulainya pertanian. Pertanian telah dikenal oleh masyarakat yang telah mencapai kebudayaan batu muda (neolitikum), perunggu dan megalitikum. Pertanian mengubah bentuk-bentuk kepercayaan, dari pemujaan terhadap dewa-dewa perburuan menjadi pemujaan terhadap dewa-dewa perlambang kesuburan dan ketersediaan pangan.

Dalam Wikipedia disebutkan bahwa hewan ternak yang pertama kali didomestikasi adalah kambing/domba (7000 tahun SM) serta babi (6000 tahun SM), bersama-sama dengan domestikasi kucing. Sapi, kuda, kerbau, yak mulai dikembangkan antara 6000 hingga 3000 tahun SM. Unggas mulai dibudidayakan lebih kemudian. Ulat sutera diketahui telah diternakkan 2000 tahun SM. Budidaya ikan air tawar baru dikenal semenjak 2000 tahun yang lalu di daerah Tiongkok dan Jepang. Budidaya ikan laut bahkan baru dikenal manusia pada abad ke-20 ini.

Budidaya sayur-sayuran dan buah-buahan juga dikenal manusia telah lama. Masyarakat Mesir Kuno (4000 tahun SM) dan Yunani Kuna (3000 tahun SM) telah mengenal baik budidaya anggur dan zaitun.

Teknik budidaya tanaman lalu meluas ke barat (Eropa dan Afrika Utara, pada saat itu Sahara belum sepenuhnya menjadi gurun) dan ke timur (hingga Asia Timur dan Asia Tenggara). Bukti-bukti di Tiongkok menunjukkan adanya budidaya jewawut (millet) dan padi sejak 6000 tahun sebelum Masehi. Masyarakat Asia Tenggara telah mengenal budidaya padi sawah paling tidak pada saat 3000 tahun SM dan Jepang serta Korea sejak 1000 tahun SM. Sementara itu, masyarakat benua Amerika mengembangkan tanaman dan hewan budidaya yang sejak awal sama sekali berbeda.

Indonesia juga menjalani sejarahnya dengan dikenal sebagai negara agraris dan negara maritim. Iklim yang teratur, curah hujan, aliran sungai serta kondisi tanah yang subur karena banyak gunung berapi, merupakan faktor-faktor pendukung pertanian di Indonesia. Indonesia dikenal sebagai negara Agraris dikarenakan keadaan geografis yang baik sehingga sejak zaman dahulu mata pencaharian utama bangsa Indonesia adalah bercocok tanam.

Sebagai Negara agraris Indonesia memiliki setidaknya tiga bentuk pertanian : Sawah, yaitu suatu bentuk pertanian yang dilakukan di lahan basah dan memerlukan banyak air baik sawah irigasi, sawah lebak, sawah tadah hujan maupun sawah pasang surut. Tegalan, yaitu suatu daerah dengan lahan kering yang bergantung pada pengairan air hujan, ditanami tanaman musiman atau tahunan dan terpisah dari lingkungan dalam sekitar rumah. Lahan tegalan tanahnya sulit untuk dibuat pengairan irigasi karena permukaan yang tidak rata. Pada saat musim kemarau lahan tegalan akan kering dan sulit untuk ditubuhi tanaman pertanian. Pekarangan, yaitu suatu lahan yang berada di lingkungan dalam rumah (biasanya dipagari dan masuk ke wilayah rumah) yang dimanfaatkan untuk ditanami tanaman pertanian.

Kegiatan pertanian Indonesia mengalami perkembangan yang pesat. Masih dari Wikipedia diketahui adanya bukti-bukti dengan adanya usaha pengairan/irigrasi yang teratur seperti disebutkan dalam Prasasti Tugu yang dikeluarkan oleh Raja Purnawarman. Isi dari prasasti tersebut adalah tentang penggalian sebuah sungai untuk saluran yang disebut Gomati, sepanjang 12 km dan dikerjakan selama 21 hari. Saluran ini kemungkinan sekali dipakai sebagai irigasi atau bendungan pengendalian banjir yang selalu melanda pantai utara Jawa Barat.

Di dalam prasasti Harinjing /726 Caka (van Stein Callenfels, 1954:115-130), disebutkan tentang pengaturan air dari sungai Harinjing untuk keperluan pertanian. Raja Mpu Sendok telah memerintahkan membuat bendungan untuk mengairi daerah Kapulungan, Wuatan Wulas, Wuatan Wamya (Brandes, 1913:82-83). Pada masa Airlangga, pertanian mengalami kemajuan pesat karena Airlangga telah berusaha mengendalikan sungai Brantas yang telah memusnahkan lahan sekitarnya.

Pada masa Majapahit, pertanian mendapat perhatian yang cukup besar dari raja dan penguasa. Agar petani dapat bekerja dengan tenang dan baik, raja memberi perlindungan berupa penetapan tanah pertanian (Negarakertagama pupuh 88.3, Th. Pigeaud, vol III:103-104). Selain itu pemilik tanah diatur dalam suatu undang-undang. Ini mirip reforma agrarian untuk masa sekarang. Bendungan-bendungan (dawuhan) untuk mengairi sawah dibangun atas perintah Bhatara Matahun. Semua usaha dalam bidang pertanian tujuannya untuk menyejahterakan rakyat Majapahit.

Dalam rentang waktu yang lebih muda petani jawa tengah di warisi pranata mangsa oleh para leluhur Mataram. Ilmu dan pengetahuan tentang bagaimana mengenali, memahami dan menyusun strategi bertani disesuaikan dengan alam tersebut ditulis sebagai dedikasi pemerintah kala itu terhadap dunia pertanian.

Salah satunya adalah pranata mangsa. Dalam pranata mangsa di bagilah waktu satu tahun dalam beberapa mangsa. Kemudian tahun-tahun di beri nama sesuai dengan ciri khas nya terkait dengan cuaca, iklim dan kejadian alam lainnya dan terbagi menjadi 8 nama tahun. Satu tahun dengan tahun lainnya memiliki ciri yang berbeda-beda dan memiliki siklus 8 tahunan. Siklus 8 tahun ini dinamakan 1 windu dimulai dari tahun Alip, kemudian Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jimakir dan kembali lagi ke tahun alip. Windu juga memiliki siklus, yang terdiri dari empat siklus, yang masing-masing dinamakan Windu Adi, Kunthara, Sengara, dan Sancaya. Jadi, satu siklus memakan waktu 32 tahun. Dan seterusnya.

Kesemuanya di atas sebenarnya sekelumit informasi bahwa peradaban bangsa ini tidak bisa terlepas dari pertanian dan petani. Imajinasinya kemudian petani duduk setara dengan elemen lain di negeri Indonesia tercinta dalam menopang peradaban bangsa ini karena telah sejahtera dan hidup berbahagia, berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian dalam budaya. Ke sanalah arah gerakan perjuangan SPPQT berjalan. Di saat kondisi petani dan pertanian setara dengan elemen lain dalam menopang peradaban bangsa sudah nyata terjadi, di saat itulah mungkin visi SPPQT nampak using dan waktunya untuk ditinjau kembali.

Itulah sebagian informasi yang turut mendasari disusunnya naskah visi SPPQT dan cita-cita luhurnya untuk terbangunnya peradaban baru bangsa Indonesia berbasis pertanian menjelang dilaksanakannya RUAS SPPQT 2008. Diantara pegiat SPPQT saat ini sebagian besar juga mengikuti proses pendiskusian panjang ini dan bagaimana cita-cita ini dipandang lebih tinggi dari visi sebelumnya. Sehingga visi sebelumnya dipandang bisa menjadi suatu langkah untuk menggapai visi di atas dan kemudian dijadikan misi.

Harapannya SPPQT bukan sebagai kerumunan orang orang ringkih dan terbelenggu sentimentalitas yang mudah terseret emosinya oleh asumsi, sugesti dan tawaran-tawaran dari luar yang menyilaukan. Kerumunan semacam ini akan terancam kehilangan kekuatan untuk menelaah segala sesuatu karena susah membaca, malas menulis, pusing saat diajak berpikir, sering diam menghindar dan cari aman ketika menghadapi masalah, suka berkata-kata dan enggan mendengar. Yang terjadi kemudian merasa paling hebat dan benar di dalam wadah mereka sendiri.

Mari membangun SPPQT menjadi organisasi kuat, didukung para pegiat yang mengedepankan rasionalitas dan nilai-nilai demokrasi, didorong semangat menyatukan hati, membebaskan jiwa dan berdayakan diri. Sehingga memiliki keteguhan hati untuk mewujudkan masyarakat tani yang kuat, sejahtera dan berdaya. Semoga para pegiat SPPQT senantiasa ingat semboyan untuk senantiasa berjuang untuk keadilan dan kemandirian bersama. Untuk bangkit bergerak membangun kesadaran guna melawan penindasan. Kesadaran inilah yang berguna untuk mewujudkan perubahan.


*Mujab. pegiat SPPQT
Gambar: petanitop.blogspot.com
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :