"Apa rasa-rasanya kita sudah merdeka ? mendengar atau membaca kata "Merdeka" sudah tidak asing lagi bukan. Yap indonesia sudah dikatakan merdeka pada waktu 17 agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta, semenjak itu kita selalu beranggapan bahwasannya Indonesia adalah sebuah negara yang merdeka dan sudah di akui oleh negara lain. Tapi yang kita lihat hanyalah sebuah bungkus yang menyelimuti."
___________________________________________________________________________________



 Sejak dari kecil hingga masuk bangku sekolah, kita selalu di beri asumsi bahwa negara kita sudah merdeka dengan sejarah-sejarah diamana para pahlawan kita mendapatkan kemerdekaan ini dengan keringat dan darah mereka. Selalu saja kata-kata manis tentang indonesia terus terngiang di telinga kita, membutakan penglihatan dan hati kita, membuat kita kurang kritis terhadap dunia terutama Indonesia. Kita semakin kehilangan Jati diri kita Indonesia semakin terkikis dan terus terkikis, langkah kita selalu di selak dan terus begitu hingga suatu saat hal yang kita tidak jaga dan lindungi diambil oleh orang lain, lalu kita baru saja sadar setelah hal itu terjadi dan berusaha memprotes ketidakadilan kepada dunia. Satu contoh dimana penajajahan masih terjadi setelah UUD diprokamasikan.
Minyak Kelapa
Pada tahun 90-an sebuah usaha minyak kelapa di indonesia milik Sirajuddin nanar Desa Rea Barat, Kecamatan Polewali, Sulawesi Barat. Pada masa itu minyak kelapa bisa di ekspor keseluruh belahan di dunia dengan onsep yang sangat besar sekitar Rp 4,98 milyar, hingga negara kita dijuluki peng-ekspor emas hijau terbesar. Pengelolaan industri rumahan ini semakin berkibar setelah berdirinya sejumlah Koperasi Usaha Bersama (KUB) yang mengoordinir pemasarannya. Tapi kian perlahan usaha Sirajuddin dan kawan-kawan sesama petani minyak kelapa Mandar kian menurun, salah satu hal yang menghadang karena minimnya pasokan buah kelapa. Ironis sekali, padahal kita adalah negara kepulauan terbesar dengan garis pantai terpanjang dan terbanyak yang sudah pasti tumbuhnya nyiur melambai (kelapa).  Belum lagi gencarnya serangan-serang Minyak sawit pabrikan, yang melakukan penjualan hingga ketempat-tempat plosok membuat minyak goreng milik Sirajjudin kian tersisih dari dunia pasar. 

Perang Anti-kelapa 

Kematian minyak kelapa sangat dirasakan Sirajjudin dan petani-petani minyak kelapa, ada satu
ancaman yang sudah lama sekali menjadi momok bagi petani. Yaitu perang anti-kelapa yang dilancarkan oleh negara-negara penghasil minyak nabati. Dan salah satu negara yang sangat getol menyerang minyak kelapa indonesia, yaitu Amerika Serikat yang menjadi salah satu produsen minyak nabati ternama sedunia. Nah ini nih yang paling gua benci cara mereka buat ngejatuhin ekonomi Indonesia dengan mengguanakan emblem-emblem "KESEHATAN" yang sudah pasti tidak semua orang di dunia mau untuk mengerti soal kesehatan. Amerika Serikat menggunakan emblem-emblem kesehatan untuk menjatuhkan minyak kelapa dengan melancarkan bahwa minyak kelapa itu sangat berbahaya karena minyak kelapa memiliki minyak jenuh yang tinggi dan mampu menyebabkan kolestrol, serangan jantung dll (kata mereka sih begitu). 


Itu adalah salah satu kekayaan Indonesia yang dijajah (diambil,dihancurkan) hanya membutuhkan sedikit bumbu penyedap untuk merusak Indonesia. Jadi serasa sudahkah kita mengkritisi Indonesia yang kita cintai ? mengenal sejarah yang sampai saat ini masih saja terus terulang, sudah maukah kalian atau kita mencari JATI DIRI INDONESIA yang sudah lama terkubur ? 

"Jika sudah, lanjutkan. Jika belum, ayo mulai"
"Penjajah tidak akan punah dan tidak sudi enyah dari muka bumi Indonesia ini, meskipun pada tanggal 17 Agustus 1945 telah kita proklamasikan kemerdekaan Indonesia!" 
                                                                                                                                  (Soekarno)   



sumber: buku "membunuh Indonesia"
gambar: live.viva.co.id dan pixabay.com
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :