PETANI INDONESIA HARI INI


oleh Rossi Dewi Riana


KURANG DIPERHATIAN: Selama ini, para petani tembakau masih dibingungkan dengan persoalan modal bercocok tanam.KM/TOTOK ISWANTO
Petani tembakau memanen hasil tanamannya

Negara agraris, itulah julukan yang diberikan untuk Indonesia. Hal ini dibuktikan dari sebagian besar pulau yang ada di Indonesia berisi ladang-ladang para petani. Selain itu, penduduk Indonesia kebanyakan bekerja sebagai petani. Jika dilihat dari alam yang mendukung dan banyaknya pekerjaan sebagai petani maka dimungkinkan Indonesia memiliki pertanian yang bagus.

Bukanlah persoalan lagi jika petani Indonesia harus menghidupi seluruh rakyat Indonesia. Namun, kenyataan yang terjadi sangatlah berbeda. Adanya permasalahan-permasalahan baik itu karena social, dari petani itu sendiri, kondisi alam, kondisi pasar dan ataupun kebijakan pemerintah sedikit menghambat pergerakan petani Indonesia. Anggap saja ketika produk para petani terpontang panting karena keadaan alam ataupun kesengajaan manusia. Hal itu membuat keadaan tidak stabil dan mengganggu para petani ataupun mereka para konsumen.

Mengenali musim dan cuaca adalah kunci awal petani mempelajari ilmu alam untuk bertani. Dari teori-teori yang ada petani mampu memasukkan segala pengetahuanya untuk bertanam. Seperti halnya mereka mampu mengetahui musim untuk menanam jagung ataupun musim untuk menanam padi. Namun tak semua keadaan alam dapat diprediksi dengan mudah dan tepat. Seringkali petani mendapatkan kerugian atas keadaan alam yang tak menentu.

Salah satu hal yang tak dapat diprediksi adalah cuaca. Cuaca adalah keadaan udara pada saat tertentu dan di wilayah tertentu yang relatif sempit dan dalam jangka waktu yang singkat. Cuaca terbentuk dari gugusan unsur cuaca dan jangka waktu cuaca bisa hanya beberapa jam saja. Sebagai contoh adalah pada saat musim panas. Menanam tembakau adalah waktu yang tepat karena tembakau tumbuh dalam lahan kering. Namun, terkadang hujan datang seharian penuh sehingga membuat lahan tembakau tergenang oleh air. Jika genangan air itu tak segera surut maka lama-kelamaan tembakau tersebut akan busuk. Membusuknya tembakau juga dapat terjadi saat menjemur tembakau yang sudah diiris. Tembakau yang tak kunjung kering akan mengakibatkan tembakau yang lembab dan tidak memiliki bau sedap. Hal itu akan merugikan petani karena harga jual akan menurun.

Mengingat manusia itu tak hidup sendiri dan selalu ada makhluk lain yang ada disekitar manusia, salah satunya adalah hewan. Hewan disini ada yang menguntungkan ataupun merugikan bagi petani. Hewan yang menguntungkan untuk petani adalah cacing dan hewan yang meruikan petani adalah hama tikus dan wereng. Tikus dan wereng sering kali merusak tanaman petani dengan memakan buah, sehingga saat tiba panen tidak ada yang harus dipanen. Sering jugs ditemui pada padi yaitu “gabug” atau padi itu tidak ada berasnya.

Hal lain lagi yang terjadi adalah adanya hambatan pengairan untuk lahan. Kurangnya pengairan untuk lahan akan menghambat tanaman tumbuh subur. Beberapa petani mampu mengatasi hal ini dengan membuat waduk atau irigasi untuk menyimpan air. Itu jika mereka hidup di desa dan belum terkontaminasi dengan limbah pabrik.

Persoalan lain muncul saat air yang untuk mengairi tanaman tersebut terkontaminasi oleh limbah pabrik maka hal itu akan berdampak buruk pada tanaman. Hal buruk yang akan terjadi adalah tanaman tersebut terkontaminasi dengan bahan kimia dan pastinya tumbuhan itu akan mati.

Hasil produksi yang memuaskan cukup membuat para konsumen ingin membelinya. Tetapi dengan syarat mereka mampu membayar dengan harga yang cukup tinggi. Ketika petani melakukan proses penanaman hingga masa panen, petani membutuhkan uang yang cukup banyak sehingga ketika mereka menjualnya harus seharga yang seimbang. Permasalahan itulah yang terjadi di Indonesia, banyak konsumen Indonesia tidak mampu membeli dengan harga tinggi. Konsumen lebih memilih barang impor yang murah dan tidak terlalu buruk bentuknya. /



SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :