PERMASALAHAN PETANI INDONESIA



Oleh nur isnaini febriana

Petani memanen padi di sawah

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan sumber daya alamnya. Akan tetapi sumberdaya alam yang melimpah perlu dukungan dari sumber daya manusia untuk memanfaatkan alam dengan bijak. Bukan hanya memanfaatkan untuk keuntungan materil tetapi juga harus memikirkan kelangsungan alam sebagai sumber kehidupan. Alam akan memberikan apapun yang dibutuhkan untuk mahluk hidup dan dengan segala kebaikanya alam hanya menuntut untuk tetaplah menjadi menusia sebagai kodratnya.

Indonesia lebih dikenal sebagai negara agraris. Demikian dikarenakan sebagian besar warga negaranya mempunyai profesi dibidang pertanian atau bercocok tanam. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa para petanilah yang menghidupi bangsa Indonesia. Tetapi dijaman sekarang kesejahteraan petani justru dikesampingkan atau bahkan berada di list terakhir di tugas negara. Permasalahan-permasalahan petani justru dianggap kelumlarahan yang cukup dimaklumi oleh pemerintah. Ataukah sematan “pahlawan tanpa tanda jasa” juga pantas untuk para petani?



Persoalan Sosial petani


Perkembangan globalisasi di Indonesia, mempengaruhi banyak factor di berbagai bidang. Seperti contohnya bidang pendidikan dan ekonomi. Globalisasi menuntut masyarakat Indonesia mampu bersaing dengan masyarakat dunia. Pendidikan menjadi salah satu cara guna meningkatkan skill dan pengetahuan untuk bekal dalam menghadapi dunia luar.

Globalisasi juga berpengaruh dengan pertanian. Para petani yang kebanyakan memiliki pendidikan kurang menjadikan profesi ini dianggap kaum bawahan. Kaum yang tak berpendidikan dan tak pernah memakai sepatu. Hal ini karena petani hanya memikirkan bagaimana hasil panen mereka tanpa memikirkan bagaimana harus bisa menjadi presiden.

Anggapan bahwa petani merupakan pekerjaan kaum bawahan menjadi basic pikiran para petani jaman dulu hingga jaman sekarang. Ketidaksejahteraan dan kesenjangan ekonomi antara para petani dan para pejabat sangat ketara. Pikiran ini merasuki para petani untuk menyekolahkan anaknya sampai jenjang yang bisa diandalkan bahkan tidak jarang sampai jenjang perguruan tinggi. Alasanya sepele, “supoyo awakmu ura koyo bapak mu iki le”. Intinya mereka tak ingin anaknya menderita hanya karena menjadi petani. Mereka menginginkan anak-anak mereka merantau dan memiliki gaji tetap. Tidak seperti petani yang belum pasti, belum pasti panen, belum pasti makan.



Permasalahan SDM petani

Umumnya petani di Indonesia rata-rata berasal dari kalangan menengah kebawah. Mereka bertani berawal dari tanah warisan orang tua dan harus mereka garap untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Masalah utama dalam bertani adalah modal. Mereka harus menyisihkan hasil panen mereka untuk modal musim tanam selanjutnya. Bagaimana jika mereka gagal panen? Tak jarang mereka harus pinjam uang di bank atau sekedar hutang bibit agar tetap bisa bercocok tanam. Disini para petani harus tetap memutar otak bagimana caranya roda kehidupan tidak selalu menindih mereka.

Hasil panen tidaklah selalu stabil dan selalu mengalami fluktuasi. Terkadang hasil panen bisa menutup kebutuhan satu periode berikutnya tapi tidak jarang pula hasil panen hanya cukup untuk bayar hutang. Para petani cenderung pasrah dan kurang berinovasi dalam bertani. Dikarenakan modal yang kurang, para petani takut untuk mencoba sesuatu yang baru. Kurang konsisten ketika mereka mencoba suatu yang baru tapi gagal, mereka gampang menyerah tanpa mencari tahu apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya. Hasilnya, banyak petani hanya focus dalm satu hal penggarapan dan menggantungkan pendapatan mereka dari garapan itu.

Masalah selanjutnya adalah keterbatasan alat untuk mendukung proses bertani. Biasanya para petani menggunakan cangkul, sabit bahkan kerbau untuk membanjak lahan mereka. Masih menggunakan alat-alat tradisional menjadikan petani membutuhkan waktu lama dalam kegiatan bertani mereka. Persawahan maupun ladang berada di desa yang jauh dari perkotaan dan sulit jangkauanya. sehingga alat-alat untuk membantu pekerjaan petani sulit. Selain itu factor danapun menjadi kendala. Memang menggunakan alat-alat canggih bisa mempersingkat waktu, tetapi juga sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk menyewanya.



Persoalan alam dalam bertani

Kegagalan panen untuk para petani disebabkan oleh banyak factor. Factor dari petani itu sendiri karena kurang menguasai tehnik bertanam atau factor alami dari alam. faktor alam adalah factor kegagalan petani yang sering terjadi dikalangan petani. Factor alam yang pertama dan paling kompleks adalah tentang perairan. Air merupakan elemen yang utama yang harus ada untuk proses pertanian. Jika elemen ini mengalami masalah, bisa dipastikan proses bertani sampai akhir tidak akan maksimal. Irigasi yang tidak memadahi untuk sekian lahan pertanian di Indonesia sampai saat ini belum juga ketemu solusinya. Selain itu air untuk perairan yang terkontaminasi limbah pabrik sangat meresahkan petani. Lagi lagi petani harus memutar otak agar bisa terus bertani.

Masalah alam lainya adalah hama. Hama merupakan musuh utama bagi para petani. Para petani hanya bisa mencegahnya tanpa bisa membuat hama tersebut pergi selamanya. Petani butuh cara untuk setidaknya meminimalisir gangguan hama pada tanaman mereka.

Permasalahan petani belum cukup sampai disitu. Akhir-akhir ini cuaca yang tak menentu juga ikut menentukan hasil pertanian mereka. Biasanya musim kemarau terjadi antara bulan april sampai oktober dan musim penghujan terjadi di bulan November hingga maret. Petani mempunyai jadwal tersendiri untuk tanaman yang akan di tanam pada waktu-waktu tertentu. Tetapi masalah yang terjadi sekarang cuaca yang tak menentu membuat petani harus legowo jika tanaman mereka tidak pas pada cuaca. Konsekwensinya gagal panen atau panen dengan hasil yang tak memuaskan. /is

gambar: gesnews.com



SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :