Menjaga Air untuk Kita Semua

Air hujan melewati atap dan jatuh di tanah

Oleh: mujab


Air merupakan kebutuhan dasar manusia setelah makanan. Keberadaan air berkait erat dengan sehari-hari, seperti untuk memasak, mandi, pertanian, dan berbagai kepentingan lain. Air merupakan kebutuhan yang tidak tergantikan dengan benda lainnya. Air tawar yang banyak digunakan manusia bersumber dari sumur, sungai, mata air, dan proses lain untuk memperoleh air tawar.

Saat ini banyak mata air yang mengalami penurunan debit. Hal ini karena rusaknya daerah tangkapan air sehingga kemampuan bumi menyerap air berkurang. Dengan kata lain air hujan yang seharusnya banyak terserap justru mengalir langsung ke daerah yang lebih rendah. Maka kemudian menjadi banjir.

Di bagian lain air kenjadi sendikit ketika dibutuhkan di musim kemarau. Pertanian menjadi terganggu saat kemarau dan kebutuhan untuk memasak, mandi dan mencuci pun banyak yang kekurangan. Ini karena ketersediaan air di musim kemarau berkurang banyak. Dalam beberapa kasus kadang terjadi sengketa air antara berbagai pihak yang memakai air. Sengketa tentang air ini menjadi salah satu indikasi bahwa air menjadi barang yang sesungguhnya tersedia namun diperebutkan.

Dari situ bisa dilihat bahwa terjadi keberlimpahan air di musim hujan dan kekurangan air di musim kemarau. Kejadian ini merupakan indikasi bahwa air itu sebenarnya ada tetapi pengelolaannya selama ini belum optimal dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia terhadap air. Warga dan pemerintah sudah melakukan tata kelola air selama ini. Ada yang berbentuk PDAM, Pamsimas atau kearifan lokal yang mengatur tata guna air baik air bersih maupun air untuk pertanian dalam sistem irigasi. Namun tantangan bahwa air tumpah ruah kemana-mana ketika musim hujan dan banyak kebutuhan air yang belum tercukupi ketika kemarau tetap saja terjadi. Yang lebih repot lagi keberadaan air hujan yang belum terkelola dengan baik justru menimbulkan kerugian dakerusakan disana sini. kerugian akibat banjir, jalanan rusak, sampah terbawa air hujan dan menyumbat saluran air adalah gambaran nyata bahwa kita belum selesai dalam mengelola air hujan.

Air dan Kehidupan Manusia

Sekitar 97,5% perairan Bumi adalah air asin, sedangkan 2,5% sisanya adalah air tawar. Sekitar 68,7% air tawar yang terdapat di permukaan Bumi pada saat ini adalah es, sedangkan selebihnya membentuk danau, sungai, mata air, dan sebagainya. Artinya air bersih adalah sesuatu yang tidak banyak tersedia dibandingkan dengan kebutuhan yang terus bertambah seiring bertambahnya jumlah penduduk. Dengan demikian air harus tetap tersedia untuk seluruh penduduk agar tidak terjadi krisis.

Dalam keseharian banyak didapatkan air belum terkelola dengan baik. Air hujan masih mengalir kemana-mana. Kadang mengalir ke jalanan sehingga merusak bebatuan jalan dan aspal jalan mengelupas. Beberapa yang lain menyebabkan erosi, longsor dan banjir karena air hujan terbiarkan begitu saja.

Padahal kenyataannya tingkat pemenuhan kebutuhan air bersih masih kurang. Keadaan lebih menyedihkan lagi untuk pemenuhan air pertanian. Banyak sekali sawah di Indonesia ini menganggur ketika musim kemarau. Menganggur dan bero, terbiarkan pecah-pecah terpanggang sinar matahari karena tidak bisa ditanami disebabkan kekurangan air.

Ada pepatah tentang keadaan air kita dimana ketika datang di serapahi karena tidak diinginkan (banjir, rob), ketika butuh dicari karena kekurangan. Ini sungguh menyedihkan karena kejadian ini berulang-ulang disetiap tahunnya. Menjadi semacam kebiasaan dan bahkan kadang sudah bisa ditebak dan diprediksikan. Namun lagi-lagi kejadian yang tidak diinginkan terjadi, ketika hujan kebanjiran ketika kemarau kekurangan air.

Banjir terjadi karena banyak sebab. Salah satunya karena menurunya kemampuan bumi dalam menyerap air. Hal ini disebabkan oleh penggundulan lahan, menutup lahan dan permukaan tanah, alih fungsi lahan, dan beberapa sebab lainnya. Intinya bahwa lahan yang seharusnya berfungsi menyerap air hujan, fungsi itu menghilang. Maka air hujan kemudian menjadi run off. menggenang di jalan, memenuhi parit dan selokan, kemudian bercampur dengan sampah dan endapan tanah menyumbat aliran air. Banjir pun kemudian terjadi.

Daerah tangkapan air sebenarnya berfungsi untuk menyerapkan air hujan. Idealnya daerah tangkapan air adalah berupa lahan dengan tutupan tanaman kayu, rerumputan dan tanah berhumus. air hujan tidak langsung jatuh ke tanah, tetap tertahan oleh dedaunan terlebih dahulu. Dengan demikian tanah memiliki waktu untuk menyerapkannya, bukan seperti disiramkan begitu saja.

Air akan jatuh menetes dan sebagian lagi merembes melalui batang pohon. Permukaan tanah tertutup tumbuhan rendah, semak, humus dari dedaunan, tumbuhan kering, dan lain sebagainya. Ini akan membantu mengurangi penguapan sehingga menambah waktu bagi tanah untuk menyerap air secara lebih optimal.Sisa dari itu yang seharusnya baru mengalir ke parit, selokan dan sungai. Itupun dalam waktu sekejap setelah hujan usai alirannya akan terhenti karena lebih banyak yang terserap.

Maka kemampuan ini akan menurun ketika suatu luasan lahan berdiri bangunan beratap sehingga lahan yang ternaungi atap otomatis terhalang untuk menyerapkan air hujan. Hal yang sama ketika lahan ditutup dengan beton, keramik, tegel atau plester. Hal ini menghalangi tanah menyerap air. Maka dari sanalah air hujan hampir 100% menjadi runoff.

Runoff yang besar berpotensi menggerus tanah yang dilewati dalam bentuk erosi. Hal ini akan menjadilan alur air semakin dalam dan bisa membentuk jurang-jurang. DI bagian bawah aliran air berubah menjadi keruh karena mengandung endapan tanah yang terbawa serta. Jika air keruh maka akan berpengaruh pada menurunnya kualitas air ketika digunakan untuk mandi dan mencuci.


Apa yang Harus Dilakukan

Mengalola air hujan bisa menjadi salah satu hal yang perlu untuk diperhatikan. Ketika seseorang mendirikan sebuah bangunan maka tanggung jawabnya adalah memastikan seluruh air hujan yang mengalir dari atas bangunan itu untuk masuk ke dalam tanah. bisa dengan sumur resapan, lubang, dan lain sebagainya. Jangan sampai air hujan dari atap itu mengalir kemana-mana. Talang air, pipa dan aliran ke lokasi tempat air akan diresapkan perlu disiapkan.

Cara lainnya adalah dengan tidak menutup seluruh lahan yang dimiliki dengan bangunan. Banyak perumahan, yang menghabiskan seluruh lahannya dengan bangunan. Air hujan kemudian dialirkan ke selokan. Ada dua hal yang perlu dicatat dari hal ini. Pertama menghilangkan kemampuan lahan yang dibangun untuk menyerap air hujan, dan kedua, melepas tanggung jawab atas air hujan dari atapnya ke selokan. Ketika kapasitas selokan kemudian menjadi penuh sehingga memperpendek umur selokan. Air selokan kemudian memenuhi sungai dan bendungan. Hal ini bisa berpotensi banjir di kawasan bawah. Ketika sampai ke laur maka akan bercampur dengan air laut dan menjadi air asin. Selesailah kesempatan meanfaatkan air hujan tadi untuk kebutuhan kita hingga kembali menjadi hujan. Sisakan minimal 30% dari luasan lahan untuk tetap terbuka sehingga bisa meresapkan air hujan.

Membantu memasukkan air hujan ke dalam tanah. Hal ini bisa dilakukan dengan menjaga lahan dengan tutupan tumbuhan, membuat resapan air, sumur respan, tanggul di aliran air, tidak menutup lahan dengan beton dan beberapa tindakan lainnya. Lahan sebenarnya memiliki kemampuan alami untuk menyerap air hujan. Namun kemampuan tersebut menurun karena campur tangan manusia, perubahan alam, bencana alam, kebakaran lahan dan lain sebagainya. Maka kita bisa melakukan kegiatan untuk mengembalikan fungsi itu lagi.

Melakukan konservasi. Konservasi adalah program dan kegiatan yang sudah banyak dikenal masyarakat. Konservasi bisa berbentuk konservasi teknis dan konservasi vegatatif. Tiga kegiatan di atas sesungguhnya adalah bagian dari kegiatan konservasi. Namun disini kemudian ditekankan pada tindakan konservasi yang sistematis, terencana, melibatkan seluruh pihak, terbeayai dengan baik serta didukung dengan kebijakan pemerintah yang kuat, termasuk penegakannya./



SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :