Solidarity Economy


Oleh : Dewi Hutabarat

Ilustrasi Solidarity Economy
Pertengahan Maret lalu, kembali saya dianugerahi kesempatan jalan-jalan pintar bersama Bambang Ismawan dan Benito Lopulalan kali ini ke Manila, Philipina, dan kali ini makin meriah dengan sertanya Anggraeni Irawati Hermantyo dan Bu Raffi senior dari Bina Swadaya. Perjalanan yang penuh agenda belajar ini adalah dalam rangka workshop Social Solidarity Economy (SSE). Tema yang dibahas utamanya adalah bagaimana membangun supply chain yang berbasis usaha mikro kecil  berkolaborasi dengan usaha menengah besar.

Tetapi, tunggu dulu. Apa pula ini Social Solidarity Economy atau disingkat menjadi Solidarity Economy? Ini adalah bangunan sistem ekonomi yang didasarkan pada prinsip kebaikan bersama (people and planet), win-win, kolaborasi dan sinergi, saling menguatkan, untuk saling mengembangkan. Bukan hanya demi 3 P (people - planet - profit) tetapi untuk 4 P: people - planet - prosperous - peace.

Lihat bedanya ya? Peace.

Sistem Ekonomi Solidaritas bertujuan untuk menciptakan perdamaian. Bukan sekedar dimensi keberdayaan ekonomi, tetapi bagaimana kegiatan-kegiatan ekonomi mendorong dan menjamin semakin terbentuknya kehidupan yang damai. Artinya kegiatan ekonomi dilaksanakan untuk menjamin dampak bahwa kemiskinan dan kesenjangan ekonomi semakin tiada. Konflik, kriminalitas, keresahan sosial, hingga perang, semakin tiada. Perusakan alam lingkungan hidup semakin tiada.

Penguasaan sumber daya alam dan manusia di tangan 1% orang di atas pengorbanan 99% orang lainnya, semakin tidak terjadi. Dengan kata lain bahwa kegiatan-kegiatan ekonomi dilaksanakan dengan dasar pemikiran untuk membangun kebersamaan (solidaritas) dan dampaknya memang BUKAN hanya untuk maksimalisasi profit dan benefit ekonomi tetapi terbangunnya kebersamaan (solidaritas).

Melaksanakan Solidarity Economy hari ini, apakah lalu harus memberangus apapun yang ada sekarang dan mengganti dengan seluruh hal baru? Jawabnya adalah tidak.

Solidarity Economy dapat menggunakan "alat-alat" apapun yang ada sekarang seperti badan hukum PT, Koperasi, bahkan Perkumpulan. Bisa menggunakan sistem perbankan, keuangan mikro dan bentuk-bentuk instrumen yang tumbuh secara generik di masyarakat. Boleh memanfaatkan sumber daya alam maupun manusia.

Tetapi, strategi menggunakan "alat-alat" tersebut dilaksanakan dengan cara yang menjunjung kolaborasi win-win, dan bertujuan untuk semakin meningkatnya kolaborasi win-win. Dilaksanakan dengan kebersamaan, untuk semakin menguatnya kebersamaan. Profit, prosperous, adalah bagian dari sistem ekonomi, tetapi bukan tujuan dari sistem ekonomi ini.

Salah satu "bentukan" Solidarity Economy adalah berkolaborasinya usaha mikro atau usaha komunitas dengan usaha menengah/besar. Kolaborasi yang membentuk supply chain, dimana kepentingan meningkatnya kesejahteraan dan kualitas hidup secara keseluruhan dari pelaku usaha mikro dan/atau usaha komunitas menjadi fokus dari strategi kolaborasi ini.

Kolaborasi kayak gini kan sebetulnya bukan bentukan yang asing dalam "kerjasama usaha" toh? Maka yang "membedakan" atau yang menjadikannya "sesuai" dengan Solidarity Economy adalah Fokusnya. Bentukannya haruslah bertujuan untuk meningkatkan kebersamaan si mikro dan kecil dengan si besar. Asumsinya, si besar memiliki hal-hal yang dibutuhkan dan bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan si mikro dan kecil.

Konsekuensinya, strategi usaha harus dibuat sedemikian untuk berdampak pada meningkatnya kapasitas usaha si mikro dan kecil yang meliputi kuantitas dan kualitas, dan serapan tenaga kerja, kemampuan management, dan berkembangnya entrepreneurship.

Solidarity Economy adalah sebuah ekosistem ekonomi yang menggunakan paradigma social entrepreneurship sebagai salah satu "alat pikir". Dalam sistem Solidarity Economy ini, fokusnya adalah mengembangkan usaha individu skala mikro kecil, social enterprise, social business, koperasi, usaha komunitas, kelompok usaha bersama (KUB), BUMDES, lembaga keuangan mikro, untuk dapat berkolaborasi, bekerjasama, saling menguatkan dengan usaha menengah dan besar yang sudah berkembang dalam masyarakat hari ini.

Apakah ada yang "dikorbankan" dalam sistem Solidarity Economy ini?
(Biasanya yang bertanya ini adalah para usaha menengah besar, dan atau para penyuka neo-liberalism economy. :")

Tentu ada. Yang dikorbankan di dalam sistem Solidarity Economy adalah keserakahan untuk menumpuk keuntungan dan menguasai sebanyak-banyaknya. Usaha menengah dan besar boleh tetap hadir di tengah masyarakat, karena di dalam diri mereka ada kemampuan-kemampuan yang tidak ada dalam usaha mikro kecil. Tetapi usaha menengah dan besar harus 'puasa' dari kecanduannya terhadap profit dan kekuasaan terhadap hulu-hilir. Alasan keberadaan si menengah besar bukan lagi untuk mempertahankan dan men-semakin-besar-kan diri mereka sendiri. Tetapi untuk "berbakti" pada kepentingan sustainability dan pengembangan si mikro, kecil, komunitas lainnya tadi.

Pada mekanisme seperti ini, sebuah "keseimbangan baru" (new equilibrium) akan bertahap muncul. Dimana seluruh pelaku usaha, dalam berbagai ukurannya, bentuk badan hukumnya, model bisnis nya, akan diikat dalam satu kesepahaman.  Bahwa satu dengan yang lain saling membutuhkan, terbuka pada kolaborasi yang saling menguatkan, dan tujuan akhir dari usaha apapun ini adalah keberpihakan pada keseimbangan: people - planet - prosperous - peace.

Sistem Solidarity Economy yang menjunjung tinggi solidaritas dan kebersamaan (for peace), dengan demikian adalah sebuah mekanisme ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja yang bukan hanya masif secara kuantitas, tetapi juga penjaga kualitas pekerjaan yang manusiawi dan menjunjung tinggi kemanusiaan. Dengan strategi yang selalu melandaskan diri pada nilai-nilai kebersamaan, kemanusiaan, usaha mikro kecil bukan sekedar "usaha informal" yang "masih kecil", tetapi justru ukuran mikro dan kecil menjadi bagian dari strategi mempertahankan iklim kerja yang manusiawi, berkeadilan sosial, bersolidaritas.

Sebuah usaha mikro dan kecil, yang diperkuat dan menguat, tidak selalu harus dipaksa menjadi usaha berskala menengah dan besar. Yang terpenting adalah kualitas usahanya (management, hasil produksi, dan lainnya) menjadi semakin kuat. Di antara usaha mikro, kecil, komunitas pun kemudian saling berkolaborasi membentuk rantai supply dan kekuatan produksi yang berskala besar. Kolaborasi di antara mikro, kecil, komunitas ini kemudian dapat berkolaborasi dengan si menengah besar agar standard bisa terjaga, peningkatan kapasitas bisa terlaksana, dan pasar luas dan ekspor dapat dilayani.

Dengan prinsip Solidarity Economy, pembeli dan pengguna produk adalah bagian tak terpisahkan dari "rantai-solidaritas". Pembeli atau pengguna produk bukan hanya dilihat sebagai "ceruk pasar", tetapi sebagai bagian dari komunitas pelaksana Solidarity Economy itu sendiri. Oleh karenanya, produk-produk yang dihasilkan akan berorientasi pada menyokong kebutuhan kualitas hidup yang lebih baik bagi pengguna produk, bukan barang yang merugikan pembelinya dari segi kesehatan, mengancam lingkungan hidup, dst demi keuntungan usaha.

Sebagai usaha mikro kecil yang kuat, diharapkan lapangan kerja yang dihasilkan dapat terjaga sebagai lapangan kerja yang memanusiakan manusia. Tidak "memburuhkan" manusia dengan menjadikannya bagian dari upaya memurahkan harga sambil meningkatkan profit.

Usaha mikro kecil yang kuat juga adalah penjamin bertumbuhnya kewirausahaan di level termikro: individu. Sambil sekaligus menjadi penjaga nilai kebersamaan di level komunitas hingga global. Semua orang boleh menjadi pengusaha, dan menjadi pengusaha kuat sejahtera tidak harus selalu dengan menjadi pengusaha menengah yang menang dengan menyingkirkan sesama pengusaha mikro kecil. Keuntungan dalam bentuk money capital, sejajar pentingnya (atau malah lebih penting) dengan keuntungan dalam bentuk menguatnya social capital.

Dalam perspektif produksi bahwa produktifitas yang besar dan berkualitas, tidak harus melalui diadakannya secuil gelintir usahawan menengah besar yang menguasai bongkah besar sumberdaya, sambil meminggirkan mematikan yang mikro kecil dan memaksa mereka bermutasi menjadi buruh tanpa nama.

Apa peran pemerintah dalam bangunan Solidarity Economy ini?

Usaha mikro kecil itu cerminan dari kemandirian dan kekuatan individu dan komunitas. Dalam usaha mikro kecil ada sel-sel nilai dan budaya dimana kekuatan sebuah bangsa tertanam. Persaingan akibat cara pikir "siapa besar dia yang menang dan mendapat segalanya" menjadikan usaha mikro kecil dan usaha komunitas menjadi sekedar remah-remah bahkan lumpuh dan mati.

Pemerintah, sebagai alat negara seringkali hanya berfokus pada menguatkan justru yang sudah kuat. Memberi kemudahan dan fasilitas justru pada yang besar.

Akibatnya, dari jarak pendek terlihat hasil-hasil yang indah dari kacamata "ekonomi". Tetapi sesungguhnya, strategi ekonomi yang meminggirkan, mengalahkan, mematikan pelaku usaha mikro kecil, mengubah mereka dalam semalam menjadi barisan buruh manusia-setengah-zombie, adalah "cara terbaik" untuk melemahkan bangsa dari dalam sel tubuh bangsa itu sendiri.

Lebih ngeri lagi, kalau dengan sengaja pemerintah menghadirkan kebijakan yang memberi peluang bagi usaha super duper besar raksasa gigantik sebesar bola dunia (global industries) untuk dalam semalam mengubah 90% warga bangsa menjadi buruh manusia-setengah-zombie. Serta merta (atau kita sudah semakin menuju?), kita menjadi yang paling dikhawatirkan oleh pendiri bangsa Soekarno: "jangan menjadi bangsa koeli, atau koeli nya bangsa-bangsa".

Bila kita mengerdilkan, mengecilkan, dan tidak sungguh-sungguh memfokuskan seluruh kemampuan pikir kita untuk membangun Solidarity Economy yang berfokus pada kekuatan usaha mikro kecil dan komunitas agar tumbuh kuat dan menjadi penguat usaha menengah dan besar kita, maka tentu saja kita akan sangat sukses menjadi bangsa penghasil buruh murah. Nasib kita akan menjadi semakin murah buruh kita, semakin banyak "investor asing" gembira membangun pabrik di sini. Sebaliknya, semakin "mahal" buruh kita (yang artinya adalah perlakuan semakin manusiawi) semakin tidak menariklah kita ini bagi investor yang fokusnya memang memperbanyak kekuasaan mereka atas modal.

Maka, bila pemerintah mengimpikan sebuah sistem ekonomi yang:

  • - menghabisi kemiskinan dalam waktu sesingkat-singkatnya, 
  • - menghentikan "produksi kemiskinan" kini dan seterusnya (bukankah sudah terbukti hari ini ekonomi memproduksi kemiskinan bagi 90% warga dunia?), 
  • - menyediakan lapangan kerja yang banyak dan berkualitas, 

Maka satu-satunya jalan adalah menghidupkan kembali ekonomi sebagai alat memanusiakan manusia. Itulah bangunan Solidarity Economy. Pemerintah harus dengan hati dan pemikiran yang jernih menelaah bagian demi bagian dari strategi ekonomi bangsa ini, dengan menjawab: apakah strategi ini akan menguatkan usaha mikro dan kecil, ataukah sebaliknya?

Bangsa Indonesia dianugerahi masyarakat yang memiliki kreatifitas tinggi, rajin, mandiri, dan kuat nilai-nilai solidaritasnya. Ada sangat banyak praktik-praktik hebat bentuk dari Solidarity Economy tersebar di seantero Indonesia, yang skalanya mikro kecil, usaha komunitas, koperasi2 hebat dan berbagai bentuk usaha yang menjunjung tinggi penguatan social capital. Semua bisa habis selapis demi selapis bila pemerintah terus saja "over-looked" dari kekuatan dahsyat bangsa ini.

Pemerintah berperan sangat sentral untuk memastikan bahwa iklim dan ekosistem yang terbangun memang dalam artian sebenarnya menjadikan usaha mikro dan kecil sebagai penopang, penguat, bagi bangunan ekonomi yang lebih besar, yaitu usaha menengah besar dan ekonomi bangsa secara keseluruhan. Paradigma harus agak dibalik: usaha menengah besar ada, untuk membangun kekuatan usaha mikro kecil.

Roadmap perlu dibuat, agar dalam 3-5-10 tahun, Solidarity Economy menjadi bangunan ekonomi kita. Tidak perlu jauh-jauh menengok ke negara-negara lain, kumpulkan saja jago-jago penggerak ekonomi rakyat yang adalah wirausaha sosial sejati, agar formula roadmap ekonomi yang berkeadilan sosial bisa terwujud, bukan slogan. Tidak lain tidak bukan, Solidarity Economy adalah istilah kekinian dari Ekonomi Berkeadilan Sosial yang kita impikan, sejak negara ini didirikan./

gambar; huffigtonpost.


SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :