Akumulasi Primitif dan Tersingkirnya Petani dari Lahan

Kesedihan kita adalah meratapi hilangnya tanah sejengkal milik para petani-petani kecil di desa-desa. Keperluan dan kebutuhan hidup dalam era dimana permodalan bergerak dengan sangat cepat menggiring petani melarut dalam proses kapitalisme awal. Kita ambil contoh, panggilan haji bagi yang mampu selanjutnya menjadi justifikasi menjual tanah sejengkal, atau kebutuhan untuk menyekolahkan anak oleh kaum tani, orang miskin desa, dll. Apa yang sepintas normal ini kalau ditilik dari fenomena kemelaratan, sebetulnya sengaja dibuat agar petani tetap miskin, dan dapat diambil tanah dan diperas tenaganya. Akan menjadi terbentur dan berseberangan, fenomena pemiskinan ini jika hakikat pada kita menjadi seorang petani adalah kepemilikan atas tanah agar berdaulat, “sadhumuk bathuk sanyari bumi”.
                Yang seringkali berlaku dalam perseteruan kapitalisme dengan petani adalah proses akumulasi primitif/ proses pemisahan tenaga kerja dengan alat produksinya.  Untuk dapat membuat usahanya berakumulasi, para kapitalis mengambil tanah-tanah para petani dengan segala cara. Peran negara, agamawan, angkatan kepolisian, filsuf, media dan aktor-aktor kelas menengah borjuis adalah mendorong agar proses pengambilan ruang/ lahan dari para petani juga nantinya mempersiapkan tenaga kerja murah setelah tanah itu dikuasai.
                Dalam bukunya tentang the invention of capitalism David Pellermen menjelaskan proses akumulasi primitif yang terjadi sejak mula di Inggris. Dalam bukunya yang bertolak dari kajian sejarah awal kapitalisme, D. Pellermen mengecam Smith perihal pandangannya tentang sistem kapitalisme yang ia daulatkan memberikan pilihan dan kebebasan kepada setiap orang (petani) di masyarakat. Pellermen senada dengan Marx, membongkar bahwa proses pra-kapitalis (akumulasi primitif) yang berlangsung kepada petani di Inggris lebih merupakan sebuah pemaksaan daripada alamiah. Ada suatu usaha pengondisian oleh kelas menengah borjuasi agar lahan-lahan para petani terambil baik lewat pemiskinan, maupun melalui kekerasan bersenjata. Dengan ulasan lugas dan terang Yasha Levin menjelaskan kajian Pellermen ini dalam tulisan berikut, [1]
“…everyone but an idiot knows that the lower classes must be kept poor, or they will never be industrious.” “…. Setiap orang melainkan kecuali seorang idiot mengetahui jika kelas rendahan harus tetap diusahakan agar tetap miskin, atau mereka tidak akan pernah dapat diindustrikan.
—Arthur Young; 1771
                Akumulasi primitif ini terbatas pada era perpindahan dari feodalisme akhir ke kapitalisme permulaan, atau pra-kapitalisme. Oleh beberapa akademisi Marxist tanah air, akumulasi primitif ini beberapa kali digunakan untuk menganalisa fenomena penyerobotan tanah rakyat oleh negara [2], bahkan fenomena korupsi oleh para pejabat [3].
Relevansi Akumulasi Primitif Perspektif Politik LSD Qaryah Thayyibah
Dalam kacamata kita yang hidup dalam situasi pedesaan, kemiskinan yang terjadi dan banyaknya petani yang kehilangan tanah bukan semata-mata karena ini pilihan relatif bagi kita untuk memilih berindustri atau tetap di desa. Kalau boleh disejajarkan dengan apa yang terjadi pada akumulasi primitif di Inggris, tentu kalau dihadapkan pada pilihan, antara tetap bertani dengan masuk dalam industri kebanyakan petani akan memilih tetap menjadi petani sebab terhindar dari; urbanisasi, menjadi individualis, berupah rendah, pekerjaan yang beresiko di pabrik. Mengutip, seperti yang ditulis Yashya Levin sebagai berikut;
Yep, despite what you might have learned, the transition to a capitalistic society did not happen naturally or smoothly. See, English peasants didn’t want to give up their rural communal lifestyle, leave their land and go work for below-subsistence wages in shitty, dangerous factories being set up by a new, rich class of landowning capitalists (Levin).
Seiring perkembangan kapitalisme pada skala dunia, globalisasi memperkenalkan proses akumulasi primitive secara lebih canggih. Proses merasuknya ekonomi uang, peran iklan di media yang gencar, dan besarnya pajak menjadi alasan yang mendesakkan petani agar mau tidak mau mayoritas petani kecil tertahan dalam siklus stagnansi kemiskinan. Walaupun, ada beberapa petani dan anaknya yang berusaha tetap bertahan dengan lingkungan desa yang terbatas, kapitalis dengan bantuan negarawan, tokoh masyarakat, dan kelas menengah borjuasi berusaha mencerabut agar kebiasaan bertani tidak mencukupi untuk memenuhi subsistensi melalui persuasi-persuasi bulus. 
Ttambang galian C di desa Damarkasiyan, Wonosobo mengakibatkan banyak petani bekerja sebagai buruh tambang. Dok. AB
Akumulasi primitif dalam terang penjelasan teoritikus Marxist mutakhir banyak dijelaskan oleh David Harvey yang melihat akumulasi primitif yang dalam istilahnya accumulation by dispossession [4] dengan menghubungkan tiga modus ekspansi utama yaitu privatisasi, hegemoni dan penciptaan ruang. Penciptaan ruang sendiri lebih sentral disini dimana perebutan lahan dan menjadikan buruh para bekas pemilik, sementara itu privatisasi muncul sebagai perlindungan dari proses penyerobotan, dan terakhir hegemoni sebagai proses pelanggengan ide sehingga ketidaksadaran atas proses pencurian (bahkan dengan kekerasan) ini dapat teraklamasi .


Note:
Tulisan ini sebelumnya diposkan di sini
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :