Santri dan Bangsa

Salah satu kitab referensi santri




Santri tidak bisa lepas dari pesantren, pesantren tidak lepas dari masyarakat. Santri adalah warga masyarakat yang (pernah dan sedang) belajar di pesantren. Pesantren adalah penuangan ide, gagasan, rencana, semangat, orang atau warga yang merupakan bagian dari masyarakat. Pesantren hidup, tumbuh, berkembang, mengakar dan milik masyarakat.

Santri adalah spirit dimana orang belajar tidak mesti terbatas waktu, umur, jenis kelamin, adat, budaya dan kasta. Santri juga semangat bahwa segala sesuatu dipelajari karena ada aspek manfaat, barokah, dan ijazah dalam segala hal yang dipelajari. Santri tidak lupa bahwa ilmu itu bermanfaat jika diamalkan. Ilmu membawa barokah jika menimbulkan kebaikan dan kemaslahatan. Ilmu harus diijazahkan agar tidak sesat dan menyesatkan. Agar tidak menjadikan pemiliknya jahat baik kepada dirinya sendiri ataupun kepada orang lain.

Santri gambaran sosok berpikiran cerdas, tegas, dan kritis. Segala hal diupayakan dipandang dengan jenih, tenang dan tetapi disebalik itu ada tawadhu', khidmad, dan adab. Santri memaknai kata demi kata dengan goresan tinta, tidak hanya makna lughowi, istilahi, apalagi sekedar kaidah.  Dipelajari kata asal dan kata dasarnya, wazan nya, tasrif nya, dan juga i'rab atau cara membunyikan harakatnya. Setiap kata (atau kalimat dalam bahasa arab) selalui menimbulkan kesadaran bahwa tidak ada kata tanpa makna. Setiap kalimat atau kalam harus bisa dipahami dan dilandaskan pada kesadaran. Ada istilah bil wadh'i di sana. Hal ini tetap dibawa bahkan ketika kembali ke masyarakat.

Santri punya prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah‑tengah kehidupan bersama. Bersedia menjadi panutan yang bersikap dan bertindak lurus dan selalu bersifat membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat tatharruf (ekstrim).

Santri juga mengembangkan sikap toleran terhadap perbedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu’ atau menjadi masalah khilafiyah; serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan.

Santri selalu berupaya untuk seimbang dalam berkhidmah. Menyerasikan khidmah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, khidmah kepada sesama manusia serta kepada lingkungan hidupnya. Menyelaraskan kepentingan masa lalu dan masa mendatang.

Santri tentu saja menjalankan Amar ma’ruf nahi mungkar. Selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan yang baik, berguna dan bermanfaat bagi kehidupan bersama; serta menolak dan mencegah sernua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai‑nilai kehidupan. Ini baik untuk memerankan diri ditengah masyarakat.

Santri juga berani angkat senjata, berjuang di garis terdepan, dan bertahan sampai titik darah penghabisan ketika panggilan jihad memanggil. Ada spirit perjuangan dan perlawanan dalam sanubari santri bahwa hidup dan kehidupan bangsa ini harus merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Selamat hari santri nasional



mujab: pengagum santri
gambar:ashhabur-royi.blogspot.co.id
bahan bacaan dan maroji': Khittoh NU 1926




 oleh:mujab


Santri adalah warga negara yang baik dan loyal kepada bangsa dan negara. Menjunjung tinggi kebersamaan di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Dilandasi sikap saling menghormati dan menghargai atas perbedaan dan keberagaman, baik pemikiran maupun keyakinan. Selalu bersemangat dalam usaha mendorong, memacu dan mempercepat perkembangan masyarakatnya. Selain itu santri juga cerdas untuk menyesuaikan diri dengan setiap perubahan yang membawa manfaat bagi kemaslahatan manusia.


SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :