Kemiskinan di Desa Meningkat, Redistribusi Lahan Semakin Mendesak

Salatiga.Caping. Jumlah kemiskinan di Indonesia bertambah selama setahun terakhir. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) per 15-09-2015, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan, yakni Rp. 330.776,- per bulan.) di Indonesia mencapai 28,59 juta orang atau 11,22 persen dari jumlah penduduk. Jumlah penduduk miskin ini bertambah sebesar 0,86 juta orang dibandingkan dengan kondisi September 2014 yang sebesar 27,73 juta orang atau 10,96 persen dari jumlah penduduk. Kemiskinan dipengaruhi oleh kenaikan harga beras, cabe rawit dan gula pasir pada awal tahun 2015 yang lalu.
Menanggapi hal ini, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih menyampaikan, 17,94 juta orang diantaranya penduduk miskin yang tinggal di perdesaan dan 10,65 juta orang tinggal di perkotaan.
penduduk_miskin
“Jadi ini artinya penduduk desa yang sebagian besar berprofesi sebagai petani tingkat kemiskinannya lebih tinggi dibanding penduduk di perkotaan. Krisis harga beras di awal tahun 2015 juga berkontribusi tinggi dalam peningkatan jumlah penduduk miskis, terkhusus di pedesaan. Hal ini dikarenakan petani juga menjadi konsumen,” kata Henry di Jakarta pagi ini (18/09).
Henry melanjutkan, angka kemiskinan yang tinggi diperparah dengan datangnya musim kemarau lebih awal dan diprediksi akan panjang. Kemarau yang terjadi mengakibatkan kekeringan di sebagian besar wilayah Sumatera, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kemarau yang datang lebih awal dan diprediksi berlangsung hingga Februari 2016 ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino di Samudera Pasific.
“Kekeringan ini menyebabkan sumber air dan irigasi mengering, petani mengalami panen lebih dini, penurunan hasil panen dan bahkan sampai terjadi gagal panen,” tutur Henry.

Nilai Tukar Petani (NTP) Ikut Turun
Sementara itu, kemiskinan dan kekeringan yang terjadi sangat berpengaruh nyata terhadap situasi Nilai Tukar Petani (NTP) yang belum beranjak dari posisi yang riskan. NTP pada Agustus 2015 mengalami kenaikan, akan tetapi kenaikannya belum begitu signifikan yakni hanya sebesar 0,31 dari 100,97 menjadi 101,28. Kenaikan itu dipengaruhi oleh naiknya NTP subsektor tanaman pangan. Adapun NTP subsektor lainnya sperti hortikultura dan tanaman perkebunan rakyat mengalami penurunan.
ntp_pangan
NTP tanaman pangan mengalami kenaikan sebesar 1,7 menjadi 98,98. Kenaikan yang dialami petani tanaman pangan, belum bisa dikategorikan sejahtera. Dikarenakan posisi NTP tanaman pangan masih di bawah 100. Kenaikan NTP tanaman pangan dipengaruhi oleh kenaikan harga beras pada bulan Agustus 2015. Selama Agustus 2015, rata-rata harga beras kualitas premium di tingkat penggilingan sebesar Rp 9.126,78,- per kg naik sebesar 2,03 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Rata-rata harga beras kualitas medium di tingkat penggilingan sebesar Rp 8.741,08,- per kg naik sebesar 1,07 persen dan di pasar harga beras medium berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI mencapai Rp. 10.240,- per kg. Kenaikan harga beras juga terjadi pada beras kualitas rendah di tingkat penggilingan dihargai sebesar Rp 8.724,84,- per kg atau naik sebesar 5,02 persen.
ntp_hortikultura
Berbeda dengan NTP Tanaman Pangan, NTP Hortikultura mengalami penurunan sebesar 0,14 dari 101,73 menjadi 101,59. Penurunan NTP Hortikultura disebabkan oleh indeks yang diterima petani lebih kecil dibandingkan indeks yang dibayar petani. Kenaikan harga cabai merah, cabai keriting, mangga, salak, jahe dan kunyit di bulan Agustus 2015 tidak lebih besar dari kenaikan konsumsi rumah tangga petani.
Selanjutnya, posisi NTP tanaman perkebunan rakyat Agustus 2015 merupakan titik terendah. NTP tanaman perkebunan rakyat pada bulan Agustus 2015 juga mengalami penurunan sebesar 1,17 dari 97,82 menjadi 96,68. Kesejahteraan petani perkebunan rakyat semakin terpuruk di tengah belum membaiknya harga komoditas perkebunan. Penurunan yang terjadi dipengaruhi oleh keterpurukan harga Crude Palm Oil (CPO). Selama bulan Agustus 2015, harga CPO di Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) turun dari Rp. 7.466,- per kg menjadi Rp. 6.275,- per kg.
ntp_perkebunan
“Harga TBS disini hanya Rp 700 dari harga normalnya yang sekitar Rp 1.500,” kata Zubaidah, petani SPI asal Kabupaten Asahan, Sumatera Utara
Selain Kelapa Sawit, penurunan harga juga terjadi pada cengkeh.

Pembaruan Agraria Jalan Keluarnya
Menaggapi hal ini, Henry menegaskan, di tengah kemiskinan yang meningkat, kekeringan panjang dan kesejahteraan petani yang tak terpenuhi, pemerintahanan Jokowi-JK harus mempercepat pelaksanaan redistribusi lahan yang jadi bagian dari pembaruan agraria yang terkandung dalam Nawacita dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.
“Pembaruan agraria adalah perubahan struktural, berbeda dengan hanya sekedar meredistribusikan lahan. Pembaruan agraria yakni menata kembali penguasaan dan kepemilikan sumber-sumber agraria, salah satunya tanah,” tegas Henry.
“Ketika pembaruan agraria 9 juta hektar dilaksanakan, maka petani tak bertanah akan memiliki tanah. Dengan itu kemiskinan akan berkurang dan kesejahteraan petani berdasarkan NTP akan meningkat. Selain itu, Inflasi perdesaan 0,47 persen yang terjadi pada Agustus 2015, yang disebabkan oleh kenaikan indeks seluruh kelompok konsumsi khususnya indeks kelompok bahan makanan dipastikan akan berkurang. Seiring dengan kemampuan penduduk perdesaan untuk memenuhi kebutuhan bahan makanannya sendiri dari lahan pembaruan agraria tersebut,” lanjut Henry panjang lebar.
Henry menambahkan, di tengah kondisi perekonomian global sekarang ini, untuk mengentaskan kemiskinan pemerintah harus segera menjalankan mendistribusikan lahan yang jadi bagian dari pembaruan agraria.
“Pembaruan agraria adalah syarat utama terwujudnya kedaulatan pangan yang akan menyangga implementasi visi Trisakti, Nawacita dan RPJMN 2015-2019 pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla,” tambah Henry.

sumber: spi.or.id
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :