Pembelajaran Bertani dari Krisis Yunani

 Yunani. Ilustrasi
Kebangkrutan yang dialami Yunani membuat negara tersebut mengalami krisis finansial. Sejumlah bank terpaksa membatasi penarikan yang akan dilakukan nasabah mereka, termasuk membatasi dana pensiun warganya.

Situasi itu berujung pada melambungnya harga-harga barang pokok di Negeri Para Dewa itu. Naiknya harga kebutuhan pokok mendorong rakyat Yunani pontang-panting membiayai hidup keluarga. Salah satunya Ilias Mathes, petani dari Karitania, sebuah desa di pegunungan daerah Arcadia Pelopennese. Ia terpaksa mengandalkan hasil bumi untuk menghidupi keluarganya.

"Aku menanam selada dan bawang. Aku juga menernak ayam dan burung," kata Ilias Mathes seperti dikutip Foxbusiness, Sabtu (4/7).

Nasib serupa dialami warga Yunani lainnya, Mathes. Ia tak bisa mengakses dana pensiun miliknya sejak Yunani mengalami resesi ekonomi. Katanya, pemerintah telah membatasi penarikan dana pensiun tiap warga sejak sepekan lalu.

"Aku rasa aku dapat bertahan entah untuk dua atau tiga bulan kedepan. Aku tak bisa membiarkan keluargaku menderita seperti negara ini," akunya.

Namun, bukan berarti kesulitan keuangan tidak menerpa Mathes. Untuk mengambil uang dari bank guna membeli bibit tanaman, Mathes harus pergi ke kota menggunakan taksi dan menghabiskan sekitar 40 euro untuk sekali jalan. "Dan dari bank kami hanya bisa mengambil uang sebesar 60 euro," terangnya.

Salah satu perusahaan terbesar di Yunani, Nireus Aquaculture biasa memproduksi sekitar 70 ribu metrik ton ikan. Tapi sejak krisis terjadi, perusahaan tersebut tak bisa menjamin kalau produksi ikan mereka bisa memenuhi kebutuhan nasional.

"Aku rasa produksi ikan sekarang bisa bertahan dalam waktu dekat ini. Masalahnya kalau krisis terus menerpa, kami mau tak mau kami harus mebeli ikan juga dari luar," terang salah seorang nelayan seperti dikutip Undercurrentnews.

Tetapi, produktifitas yang dimiliki Mathes bersama petani lain agaknya memberi harapan mereka untuk dapat bertahan di tengah banyakya hutang kepada IMF yang melanda negara mereka.

Seperti diketahui, pemerintah Yunani berencana untuk mengeluarkan referendum sebagai solusi untuk mengeluarkan mereka dari resesi ekonomi. Penolakan terhadap dana talangan yang diberikan bank di zona eropa membuat Yunani berpotensi untuk keluar dari benua biru tersebut.

Seperti dikutip dari Guardian, berdasarkan hasil poling yang dilakukan pada Jumat (3/7) kemarin terhadap 10,5 juta orang, 44,8 persen setuju kalau untuk dilakukannya referendum.

sumber: republika online
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar :

Pur Wanto said...

“Adalah…perlu untuk mengingat kembali satu aksiom dari materialisme historis: bahwa perjuangan antar kelas di dunia ini pada akhirnya diselesaikan di ranah politis – bukannya ekonomi atau kebudayaan – dari masyarakat.” (Sejarawan Marxis Perry Anderson (1974) dalam Lineages of the Absolutist State, hal. 11)