Sindrom Hiddink memajukan sepak bola Korea Selatan

Folk hero: Hiddink is held aloft by jubilant South Koreans after steering the side to third place in 2002's World Cup
Hiddink di "lempar" ke udara dalam perayaan
raihan korea selatan juara III dunia 2002

Nama Guus Hiddink mendapat tempat spesial di hati masyarakat Korea Selatan (Korsel). Berhasil membawa tim nasional sepak bola Korsel hingga menembus semifinal Piala Dunia 2002 sebagai pelatih, Hiddink begitu dipuja di sana.

Bukti popularitas Hiddink di Korsel sangat nyata. Waktu itu, media Korsel mengulas habis apa pun tentang Hiddink. Masyarakatnya pun membicarakan Hiddink terus-menerus sampai-sampai muncul istilah "Sindrom Hiddink" di Korsel.
Bukan hanya itu, pemerintah Korsel juga rela memberi penghargaan spesial kepada Hiddink. Pria asal Belanda itu diberi gelar sebagai warga negara kehormatan. Putusan itu sangat luar biasa. Sebab, Hiddink adalah satu-satunya orang asing yang dianugerahi penghargaaan tersebut oleh pemerintah Korsel.
Hebatnya, "Sindrom Hiddink" tidak hanya berakhir di riuh-rendah pemberitaan belaka. Dampaknya lebih besar. Hiddink ternyata mampu menginspirasi masyarakat Korsel agar mau membuka mata terhadap pola pikir baru. Hal itu belakangan terbukti membantu menjadikan Korsel sebagai salah satu negara maju di dunia.
Kisah kehadiran "Simbol Hiddink" adalah perjalanan pecundang menjadi pahlwan. Mulanya Hiddink dicerca habis-habisan. Julukan Five versus Zero melekat kepadanya karena hasil yang dituai Taeguk Warriors di bawah asuhannya. Korsel sempat kalah 0-5 dua kali tepatnya atas Prancis di Piala Konfederasi 2001 dan dari Republik Cheska dalam ujicoba pada Agustus 2001.
Cibiran kepada Hiddink tidak cuma disebabkan karena hasil buruk Taeguk Warriors. Sikapnya yang mendobrak tatanan timnas juga semakin menyudutkan posisinya.
Korea Selatan resmi menjuarai ...Korea Selatan resmi menjuarai Piala AFC pada 15 September 1956.
Dobrak Tradisi Timnas Korsel 
Dalam kontrak sebagai pelatih Taeguk Warriors, Hiddink meminta kontrol penuh atas tim. Ini membuatnya berani mengubah sistem perekrutan pemain timnas Korsel.
Sebelumnya, para pemain yang bisa diambil hanya berasal "Daftar pemain tim A". Namun, tim tersebut hanya berisi para pemain yang memiliki kedekatan dengan pengambil putusan ataupun orang penting sepak bola Korsel. Kedekatan itu bisa berupa hubungan darah, kekerabatan, asal daerah, hingga keturunan.
Hiddink memutuskan mendobrak sistem tersebut. Dia memilih mencari pemain dari luar "Daftar pemain tim A". Hiddink lebih suka memanggil pemain yang dirasanya memiliki kapasitas skill mumpuni dan cocok dengan tim meski bukan anggota "Daftar pemain tim A".
Kendati dicerca, Hiddink tak peduli. Hasilnya, Korsel melejit ke semifinal usai menundukkan Italia pada babak perempat final.
Sukses itu ternyata berarti besar bagi masyarakat Korsel. Mereka sadar bahwa pemilihan atas dasar kedekatan, reputasi, ataupun keturunan belum tentu tepat. Ada hal lain yang bisa menjadi pertimbangan, yakni kapabilitas.
Studi yang dilakikan Nammi Lee, Steven J. Jackson, dan Keunmo Lee pada 2007 menemukan kedahsyatan dampak "Sindrom Hiddink". Gaya kepemimpinan Hiddink mereka sebut ditiru oleh segenap pihak di Korsel. Mulai dari dunia politik hingga perusahaan raksasa Korsel seperti Hyundai dan Samsung meniru sistem kepemimpinan Hiddink.
Pemerintah Korsel sampai angkat topi terhadap Hiddink. Mereka menikmati buah gaya kepemimpinan Hiddink inspiratif. "Saya berharap 'Sindrom Hiddink' terus membantu fundamental perekonomian negara dengan cepat. Selain itu, hal itu juga mendorong penguatan prinsip keterbukaan dan iklim kompetitif di sini," kata pejabat Kementerian Ekonomi Publik Korsel, Park Byong-won.
Meski begitu, studi yang dilakukan N. Lee, Jackson, dan K. Lee juga menemukan "Sindrom Hiddink" tidak serta-merta mengubah pola pikir masyarakat Korsel menjadi seperti Barat. Dampaknya lebih kepada membuka mata bahwa ada prinsip lain di luar nilai-nilai tradisional Korsel yang ternyata bisa juga berperan mengembangkan negara.
Luar biasa. Kisah sukses sepak bola Korsel yang menghadirkan "Sindrom Hiddink" ternyata sanggup ikut membantu memajukan bangsa. Kapan Indonesia bisa begini? Sumber: Nationalgeographic.indonesia (Asis Budhi Pramono, wartawan)
Gambar: http://www.dailymail.co.uk/sport/football/article-1140482/Lucky-Guus-ticks-right-boxes-Abramovich-Chelsea.html
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :