Resmikan sumur resapan, Patemon Wayangan.



Limbukan turun panggung
Tengaran, Caping. Sebagai rasa syukur atas terbangunnya lebih dari 200 sumur resapan di Patemon, Desa yang berketempatan peresmian ini menyelenggarakan tanggapan wayang. pementasan wayang kulit semalam suntuk ini mengambil lakon "Tumuruning wahyu makutoromo". Lakon ini disesuaikan dengan selesainya dibangun sumur resapan di Patemon dan diresmikannya ratusan sumur resapan lain di kota salatiga dan kabupaten semarang. Wayang ini digelar di pelataran rumah Pak Joko Waloyo, Patemon, Kamis malam, (19/3)

Lakon Wahyu Makutoromo ini adalah menceritakan ajaran HASTABRATA yang artinya HASTA adalah 8 dan BRATA adalah tingkah laku atau watak. Jadi HASTABRATA adalah merupakan 8 guidance (pedoman) ilmu standard perilaku manusia dalam leadership & Manajemen. Ini dikaitkan dengan rencana kedatangan tiga kepala daerah dalam acara peresmian sumur ini yaitu Gubernur jawa Tengah, Bupati Kab Semarang dan Walikota Salatiga. Walaupun pada akhirnya ketiga kepala daerah tersebut tidak hadir, namun empu hajat wayangan ini tetap mempertahakan lakon yang telah dipesan kepada sang dalang. Wahyu Makutoromo tetap digelar dan dipentaskan.

Pentas Wayang Kulit dengan lakon
Tumuruning wahyu makutoromo
Ajaran HASTABRATA berisi 8 ajaran perilaku yang harus dipunyai seorang pemimpin, yang terdiri dari sbb;

1. Watak Surya atau matahari diteladani oleh Bhatara Surya
Matahari memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan yang membuat semua makhluk tumbuh dan berkembang. Seorang pemimpin hendaknya mampu menumbuh kembangkan daya hidup rakyatnya untuk membangun bangsa dan negara dengan bekal lahir dan batin untuk dapat tetap berkarya.

2. Watak Candra atau Bulan diteladani oleh Bhatari Ratih
Bulan memancarkan sinar kegelapan malam. Cahaya bulan yang lembut mampu menumbuhkan semangat dan harapan-harapan yang indah. Seorang pemimpin hendaknya mampu memberikan dorongan atau motivasi untuk membangkitkan semangat rakyatnya, dalam suasana suka dan duka.

3. Watak Kartika atau Bintang diteladani oleh Bhatara Ismoyo
Bintang memancarkan sinar indah kemilau, mempunyai tempat yang tepat di langit hingga dapat menjadi pedoman arah. Seorang pemimpin hendaknya menjadi suri teladan (Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tutwuri Handayani). Tidak ragu lagi menjalankan keputusan yang disepakati, serta tidak mudah terpengaruh oleh pihak yang akan menyesatkan.

4. Watak Angkasa yaitu Langit diteladani oleh Bhatara Indra
Langit itu luas tak terbatas, hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keluasan batin dan kemampuan mengendalikan diri yang kuat, hingga dengan sabar mampu menampung pendapat rakyatnya yang bermacam-macam.

5. Watak Maruta atau Angin diteladani oleh Bhatara Bayu
Angin selalu ada di mana-mana, tanpa membedakan tempat serta selalu mengisi semua ruang yang kosong. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat dan martabatnya, bisa mengetahui keadaan dan keinginan rakyatnya. Mampu memahami dan menyerap aspirasi rakyat.

6. Watak Samudra yaitu Laut atau Air diteladani oleh Bhatara Baruna
Laut, betapapun luasnya, senantiasa mempunyai permukaan yang rata dan bersifat sejuk menyegarkan. Seorang pemimpin hendaknya menempatkan semua orang pada derajat dan martabat yang sama, sehingga dapat berlaku adil, bijaksana, dan penuh kasih sayang terhadap rakyatnya.

7. Watak Dahana atau Api diteladani oleh Bhatara Brahma
Api mempunya kemampuan untuk membakar habis dan menghancur leburkan segala sesuatu yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan harus bisa menegakkan kebenaran dan keadilan secara tegas dan tuntas tanpa pandang bulu.

8. Watak Bumi yaitu Tanah diteladani oleh Bhatara Wisnu
Bumi mempunyai sifat kuat dan bermurah hati. Selalu memberi hasil kepada siapa pun yang mengolah dan memeliharanya dengan tekun. Seorang pemimpin hendaknya berwatak sentosa, teguh dan murah hati, senang beramal dan senantiasa berusaha untuk tidak mengecewakan rakyatnya.


Pementasan wayang ini juga dimeriahkan oleh limbuk dan gareng sehingga disuguhkan lawakan yang hangat dan meriah. Pementasan limbuk yang digabungkan dengan penyanyi cantik memikat penonton sehingga penonton merangsek masuk memenuhi tempat duduk yang tersedia. selebihnya berdiri di sela-sela kursi dan jalan masuk.

Pemeran gareng cukup canggih mengimbangi permainan kendang yang juga canggih sehingga mereka bisa memainkan peran yang sangat kompak dan memikat penonton. Sesekali gareng dikerjain pemain kendang dan jaipong sehingga terpaksa terus menerus menari karena musik tidak dihentikan. Karena capek terpaksa gareng menari dan mendekati pemukul kendang kemudian menendangnya sehingga permainan musik terhenti. Kontan disambut ledakan tawa penonton atas adegan lucu ini. Pementasan ini berjalan meriah sampai dini hari.

Raymond Toruan, Salah satu penonton mengaku takjub dan kagum atas permainan kompak antara gareng limbuk, penyanyi dan pemain kendang yang didukung pemukul gamelan.

"Mereka bermain sangat cantik dan luar biasa. artikulasi gareng dalam menyampaikan pesan sangat jelas tersampaikan ditengah kesibukan harus menari dan dikerjain ama tukang kendang. penabuh musik cekatan dan responsif mengikuti improvisasi pemain gendang dan memainkan musik dengan sangat kompak dan sungguh meriah, tanpa ada kesalahan." Kata Raymond terkagum-kagum.

" Kalau musik klasik bagus itu wajar karena mereka menghadap teks dan ada dirijen. Ini tidak ada dirijen, tidak ada teks, semua berjalan penuh improvisasi, tetapi penyanyi, pemusik, pelawak semua mementaskan lakon dengan kompak, dan pesan tersampaikan dengan jelas, Edan..... " Kata Raymon tak bisa menyembunyikan kekagumannya./jb
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :