Editorial Januari : Waktu dengan Sendirinya Do'a

Oleh 
Arif Burhan
Saya ingin setiap pagi menjadi tahun baru bagi saya. Setiap hari saya ingin diperhitungkan dengan diri saya sendiri, dan setiap hari saya ingin memperbaharui diri. Tidak ada hari disisihkan untuk beristirahat. Saya memilih jeda saya sendiri, ketika saya merasa telah mabuk dengan intensitas hidup...
Antonio Gramsci, ditulis di harian Avanti, “Sotto la Mole,” Jan­u­ary 1, 1916.
Tanpa kita sadar bahwa tanggal, hari, dan jam tertentu mempengaruhi pemikiran kita sehari-hari. Seperti di tahun baru 2015 ini, saat kita menaruh harapan tiba-tiba keadaan berubah lebih baik. Kekeliruan mendasar perspektif seperti ini adalah menjadikan manusia obyek yang dideterminasi waktu. Padahal, manusialah yang mendeterminasi waktu. Tentu ini keadaan buruk untuk menyadari bahwa manusia bisa berhasil sebab mau terjun berproses dan melewati masalah demi masalah. Singkatnya, kita harus melawan dan memecahkan setiap keadaan buruk dulu, baru kemudian waktu-kemenangan menyusul.

Waktu dan Do'a
Tak bisa dihindari manusia tentu saja mengenal waktu tertentu sebagai sebuah pegangan yang fungsional. Namun, sifat waktu yang fungsional itu bersifat pasti dan konstruktif. Kita memang membutuhkannya karena kita menyadari bahwa pengetahuan kita tentangnya memang berarti. Seperti pentingnya petani atau pelaut melihat bagaimana menjadikan gerakan alam sebagai petunjuk sebelum beraktifitas. Bagaimana letak dan posisi matahari, gerak angin, dan cuaca. Petani adalah manusia yang sempurna dari membaca petunjuk itu.

Lebih jauh, kita harus menghubungkan waktu dengan usaha. Bahwa waktu yang berarti adalah waktu yang diisi dan tidak kosong, "Time wait for no body", seperti dinyanyikan Freddie Mercury. Kita harus mempergunakan waktu sebaik mungkin. Atau kita sendiri yang akan terbunuh oleh waktu. Sebab tanpa usaha, segala hal kiranya statis. Tidak ada perubahan tanpa kesadaran untuk me-waktu. Bahwa perubahan-perubahan kecil, selalu menjadi awal dari sebuah perubahan besar.

Masalahnya sekarang, kita telah dibuat latah dengan diperkenalkan waktu sebagai prosesi saja alias rutinitas.Tahun dan tanggal tertentu, dimitoskan dan dijadikan moment perayaan atas kehidupan. Padahal, kalau ditilik lebih jauh situasi ini hanyalah proses sublimasi manusia dari keterasingan karena rutinitas duniawi yang membuatnya seperti alien/ makhluk asing. Saya mengajak anda bersepakat bahwa memperingati tahun baru sama halnya dengan pemakaian bedak untuk menghilangkan jerawat untuk pertolongan sementara. Demi waktu, kadang kita melupakan hal yang esensial dari kehidupan yaitu menjauhi dari pertanyaan, "Apa yang ingin kamu lakukan dalam hidup?". 
 
Akhirnya
Seseorang mensyukuri waktu dengan sendirinya menjalankan proses berubah dan berkreasi, tidak sekedar  re-kreasi. Waktu yang diisi dengan langkah adalah do'a-do'a dan harapan yang nyata. Dengan memahami waktu seperti ini akhirnya manusia terbebas dari posisi kebingungan. Hidup tidak sekadar diperbudak oleh kejutan-kejutan dan harapan palsu detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun. Itu semua ada karena ketenangan telah kita genggam. Sebab kita telah mengisi waktu kita tidak hanya dengan harapan, namun proses aksi-reaksi-aksi terus menerus tak kenal henti. Dan saya akan menutup editorial ini dengan tulisan Antonio Gramsci lagi, "Setiap pagi, saat bangun lagi di bawah selubung langit, saya merasa bahwa bagi saya itu adalah hari Tahun Baru." 
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :