Sajak Penantian

Aku baru menyadari, ingatan tetang mu ternyata adalah tangis.
Hidup dalam bayang mu, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan dan bahkan tahun.
Mencintaimu tanpa kamu, memandangmu tapi bukan kamu
Ajal ku bahkan tak hadir di penghujung usia ku,
Detik demi detik nafasku adalah kematian

Jalan penantianku bukan hanya janji
Bertahun kumenanti dalam sepinya sendiri
Bahkan, aku tak mengerti kenapa,
Semua berjalan dengan sendirinya
Aku hanya sekedar menyadari ternyata ini nyata.

Saat hangat mentari pagi bangunkanku, aku kemudian menyadari.
Masalalu itu hanya ilusi semata.
Tak lagi ada aku disana, dihati yang selalu ku puja.
Kamu bukan bidadari, tapi kamu cantik.
Kamu sering marah, gampang cemberut, tapi manja.

Akhirnya, Aku sekedar mampu berkata
Ku persembahkan cinta yang sebenarnya
Cinta yang tak mati dalam derita
Cinta yang lama
Cinta yang lebih lama dari usia percintaan.
Cinta yang menanti kita bersama,
Atau cinta yang akan biarkanmu bahagia.


Edy Susanto, 16 november 2014.
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :