Meski Surplus Beras, Masyarakat Jawa Tengah Datangkan Beras Dari Daerah Lain

Dari kiri ke kanan; Totok Hariyanto (Moderator), Khadziq Faishol (Sekjen SPPQT),Kepal Dinas Ketahan Pangan Jawa Tengah) Suryo Banendro (kedua dari kanan)

SEMARANG, CAPING.LSDPQT.org - Kondisi Petani Jawa Tengah kondisinya masih sangat memprihantinkan meski setiap tahunnya surplus tiga juta ton beras. Meski sebagai produsen pangan, profesi petani menjadi sektor usaha yang paling miskin. Belum lagi jumlah petani yang terus menurun dari tahun ke tahun. Sejak 2003 hingga sekarang jumlah petani Provinsi yang dipimpin Ganjar Pranowo ini turun 25%. Penguasaan sektor-sektor pertanian seperti benih dan pupuk oleh korporasi, serta distribusi oelh pedagang-pedagang besar semakin memperburuk kondisi petani.

Demikian kesimpulan yang muncul saat sarasehan Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) yang diselenggarakan Jaringan Kerja Petani (JAKERTANI) Kabupaten Semarang hari ini, Selasa (21/10).

Mengambil tempat di lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Paguyuban Petani Gunung Potro Desa Kebumen, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, kegiatan ini menghadirkan 250 petani dari berbagai kawasan. Hadir pula Kepala Badan Ketahanan Pangan Jawa Tengah Suryo Banendro, perwakilan Dinas Pertanian Jawa Tengah   dan Sekjen Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT) Khadiq Faishol sebagai narasumber.

"Jawa tengah ini sangat strategis karena menjadi persinggahan antara Jawa Timur dan Jawa Barat.Jawa Tengah juga mempunyai lahan pertanian yang paling subur karena banyak gunung di sini. Namun rumah tangga petani tahun 2014 ini menyusut 25% sejak tahun 2003," Demikian paparan Suryo Mahendro.

Menurutnya kampanye pemerintah one day no rice (sehari tanpa nasi) untuk mengoptimalkan pangan lokal tidak akan berhasil kalau masyarakat berpindah konsumsi gandum.

"Kalau berpindah makan gandum ya sama saja, kecuali makan makanan local seperti Talas dan ubi," tambahnya.

Keadaan itu diperparah dengan rusaknya 52% jaringan irigasi di Jawa Tengah.Baginya Kebijakan peremintah harus spesifik lokal mengingat kondisi geografis di Jawa Tengah.

Hal senada juga disampaikan Khadziq Fashol. Petani saat ini dihadapkan pada tidak kuasanya petani atas pangan, air dan energi. "Yang menjadi malasah bagi petani adalah monopli. Padahal urusan pangan, air, dan energi tidak boleh dimonopoli. Petani sekarang ini sudah kehilangan bibit lokal," Begitu Faishol menjelaskan.

"Kenapa kita tidak membudidayakan bibit lokal. Bibit lokal ini menyeimbangkan kelestarian lingkungan. Kalau kita makanan makanan yang bukan dari daerah kita tentu akan menimbulkan masalah bagi pencernaan kita," imbuhnya.

JAKERTANI Kabupaten Semarang ini sendiri memiliki anggota lebih dari 3000 petani yang tersebar di beberapa kawasan,diantaranya kawasan; Senjoyo Hilir, Jogosatru, Gunung Ungaran, Rawa Pening, dan Merbabu.(KR)
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :