Sejarah Singkat Politik Pertanian Indonesia


caping.pers.lsdpqt - Politik berarti kebijaksanaan. Politik selalu berhubugan dengan negara. Kemudian apa hubungannya dengan pertanian? Pertanian selalu identik dan sangat erat hubungannya dengan politik. 

Indonesia merdeka pada tahun 1945, saat itu sedang berlangsung Perang Dunia II. Setelah perang dunia ke dua tersebut, kemudian di dunia berlanjut perang dingin antara Amerika dan Soviet. Dalam perkembangannya, banyak negara berkembang lebih cenderung berkiblat pada Soviet yang komunis, begitu juga Indonesia meskipun menyatakan dan termasuk perintis gerakan Non-blok. Karena hal itu, kemudian Amerika membuat peraturan berupa bank pembangunan dunia yang kelak disebut World Bank.  Tujuan dari bank ini adalah memperbaiki negara bekas perang dan ternyata bank ini berkembang. Guna memutus negara berkembang agar tidak lagi berkiblat pada Soviet, oleh negara sekutu maka ditemukan banyak penemuan, semisal DDT dan Green revolution. 

Kenapa Revolusi hijau? 
Revolusi hijau di canangkan karena sebelumnya Soviet sudah membuat Revolusi merah yang diprakarsai oleh Vladimir Ulyanov Lenin.  Selain itu untuk mempengaruhi negara ketiga, kemudian disebarkanlah paham baru yakni Developmentalisme dan di Indonesia di sebut paham Pembangunan.  Dan terbukti dengan adanya rencana pembuatan laboratorium di Indonesia atas prakarsa Sekutu tersebut ditolak Soekarno dengan slogannya Go to hell with your aids.  

Pada era Orde Baru, muncullah yang namanya Binmas dan mulai muncul Pancausaha tani yang isinya meliputi "bibit unggul, pupuk kimia, pestisida,mekanisasi pertanian, dan irigasi". Inilah awal masuknya Revolusi hijau yang berlangsung panjang dan lama, baik dengan cara halus maupun represi/ kekerasan.

Masuk era 80-an, Indonesia mulai masuk pada era-industri, dan konsekuensinya bidang pertanian sedikit ditinggalkan. Hal ini terjadi karena saat itu digembar-gemborkan istilah Globalisasi yang maksudnya semua meng-global. Di Indonesia sendiri banyak didirikan pabrik-pabrik besar yang kemudian berdampak pada pencemaran. Untuk memajukan sektor industri, maka para pemuda dipengaruhi untuk bekerja jadi kuli pabrik, dan dengan tenaga murah itu berarti globalisasi berkembang pesat di Indonesia. Pada saat itu mulai dibuat standarisasi, dan juga sampai adanya perdagangan bebas atau WTO pada tahun 1994.  Dan parahnya lagi Indonesia juga ikut menandatangani itu. 

Pada tahun 1995, mulai masuk AOA atau Aggrement of agriculture yang mengatur dan mengharuskan bahwa kebutuhan pangan suatu negara harus import, minimal 11%. Dan hal ini masih menjadi perdebatan sampai saat ini. 

Tahun 2003 Indonesia kembali mengikuti perjanjian perdagangan bebas Asia Pasifik yang di sebut AFTA. Perjanjian ini mengatur tentang "beras, gula, gandum, daging,  bawang putih, cengkeh".  Satu hal yang di sepakati Indonesia di perjanjian itu adalah Indonesia harus memebebaskan masuknya barang import dengan mudah.  Dulu pajak import beras 35% kemudian menjadi 3%. Hal ini mengakibatkan semua produk luar negeri bebas masuk ke Indonesia. Selain itu juga Indonesia harus menghapuskan penghambat investasi atau dirubah dengan deregulasi. 

Menurut Rahadi dari LPTP "Semua perjanjuan diatas akan berlaku penuh pada 2020. sehingga jika tidak ada keyakinan pada kemampuan sendiri, maka akan di libas habis". 

Saat ini, petani seharusnya mengerti peta politik Indonesia. Saat ini hampir tidak lagi ada perlindungan kepada petani. Setiap tahun banyak lahan pertanian hilang dan berubah menjadi area industri, perumahan, dll.  (Edy) sumber: Rahadi, SPPQT,LPTP
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :