Mengapa perlu Media Caping di LSDPQT?

Oleh : Mujab

Ada yang bertanya mengapa di LSDP-QT ada Caping, apakah Caping program LSDP-QT. Bahkan ada pula yang berpendapat bahwa Caping bukan program dari LSDP-QT dan menjadi beban manager. Dengan adanya tulisan ini harapannya tidak ada lagi polemik tentang Caping walaupun sebenarnya caping sudah masuk di rencana program LSDP-QT 2012-2014. Tulisan ini berangkat dari landasan kegiatan pelatihan jurnalistik yang dilakukan SPPQT tahun 2010 di PP Edi Mancoro.

Manusia memiliki kemampuan untuk berpikir dan menyampaikan pemikirannya pada orang lain. Pemikiran didapatkan dari proses belajar dan berinteraksi dengan manusia lain dan alam sekitarnya. Proses belajar dan berinteraksi ditopang dengan berfungsinya panca indera dan kemampuan analisis yang dimilikinya. Pemikiran itu sendiri bermanfaat bagi manusia minimal untuk menyelesaikan persoalannya.

Berbagai cara dilakukan untuk menyampaikan gagasan dan pemikiran kepada orang lain mulai dari berbincang-bincang, rapat dan pertemuan, lokakarya, hingga di tulis dalam buku, makalah, dan di muat dalam media massa. Tujuannya adalah supaya pemikiran dan gagasan lebih mudah diterima, mudah dipahami dan tanpa harus melakukan pengulangan-pengulangan penyampaian gagasan.

Belakangan berbagai media di buat manusia untuk mempermudah dan memperlancar arus pertukaran pemikiran dan gagasan sehingga di harapkan ada banyak referensi untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan. media menjadikan orang bisa melihat dan merenungkan kembali pemikiran orang lain tanpa harus mendengarkan langsung omongan pemilik gagasan. Media bisa juga difungsikan sebagai tempat bertukar gagasan dan pemikiran.

Penyampaian gagasan dalam media cetak saat ini membutuhkan kemampuan menulis yang efektif. Kemampuan menulis yang efektif di maksudkan bahwa seseorang bisa menuangkan gagasan dan pemikirannya dengan jelas, mudah dipahami pembaca, dan tulisan itu menjadi duta bagi penulisnya kepada orang lain yang hendak memahami pemikirannya.

Landasan berpikir

Qaryah Thayyibah telah mencoba membangun beberapa media, mulai dari media cetak hingga media virtual. Media cetak berbentuk bulletin. Media virtual berupa website, blog dan facebook. Media-media ini tumbuh dan di kembangkan sesuai dengan kebutuhan organisasi. Media cetak lahir di awal-awal berdiri organisasi dan mengalami fase hidup mati. Media virtual di bangun sejak tahun 2006 dan masih hingga sekarng walaupun juga mengalami fase hidup mati.

Fase hidup mati media di Qaryah Thayyibah terasa memprihatinkan mengingat media di organisasi ini adalah menjadi jembatan komunikasi dengan seluruh anggota ataupun dengan para mitra untuk bertukar pikiran, gagasan, informasi dan wacana. Fase mati media menjadi kendala bagi proses pertukaran tersebut. Dan ketika hidup lagi pun biasanya tidak bertahan lama kalaupun nantinya juga hidup lagi.

Salah satu penyebab timbulnya fase mati media ini adalah masih rendahnya kemampuan menulis para pegiat Qaryah Thayyibah dan juga para kader tingkat anggota. Hal ini karena mereka belum memiliki metode dan cara yang efektif untuk menuangkan gagasan dan pemikiran ataupun sekedar memberitakan atau menginformasikan kembali apa yang telah di lakukan.

Para pegiat yang mencoba menulis biasanya meluangkan waktu di depan komputer atau meja kerja. Karena tidak memiliki cara dan metode yang efektif akhirnya banyak waktu yang tersita untuk berusaha menulis dan tulisan pun tidak pernah jadi. Kemudian mereka berpikiran bahwa menulis adalah tindakan sia-sia dan buang-buang waktu serta menguras tenaga, tetapi hasilnya tidak memuaskan. Kemauan dan motivasi untuk menulis kemudian hilang. Mereka pun akhirnya berhenti menulis. Akibatnya banyak hal yang sebenarnya telah terjadi dan dilakukan akan tetapi tidak pernah terekspose dengan sempurna karena kendala tadi. Media cetak menjadi mati. Media virtual menjadi sepi dan kering.

Berangkat dari situasi diatas maka di pandang perlu untuk membekali seluruh pegiat Qaryah Thayyibah dengan kemauan dan kemampuan untuk menulis. Akhirnya di gagaslah kegiatan dimana para pegiat sekretariat khususnya dan perwakilan paguyuban umumnya bisa memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk menulis. Dan pilihannya adalah pelatihan jurnalistik.

Maksud dan tujuan

Dalam pelatihan jurnalistik dharapkan peserta memiliki metode dan cara efektif dalam menuangkan gagasan atau sekedar melaporkan sebuah kejadian atau sesuatu yang mereka jalani bersama petani. Cara efektif ini diharapkan membantu membedakan tulisan antara berita, artikel, laporan, dan jenis-jenis tulisan lainnya.

Tujuan kegiatan ini adalah agar proses pertukaran informasi, pemikiran, gagasan dan wacana bisa kembali berlangsung melalui media-media yang sudah ada atau media lain yang terbentuk kemudian. Sehingga proses pemberdayaan masyarakat tani bisa menguat dan bermuara pada peningkatan kesejahteraan petani.

Target kegiatan

  1. Media yang ada bisa hidup kembali dan memainkan fungsi dan perannya sebagai media bagi komunitas petani.
  2. Ada tukar gagasan, wacana, pemikiran dan pengalaman berkegiatan sehingga satu dengan yang lain bisa saling menyemangati
  3. Setiap individu pegiat di Qaryah Thayyibah mampu menelurkan tulisan yang efektif sehingga pesan pesan gagasan untuk praktik di lapangan tersampaikan dengan baik.
  4. Ada kader-kader yang memiliki kemampuan menulis, melaporkan dan mengelola media minimal dari 1 Lumbung Sumber Daya 2 orang.

Dari Target itu diharapkan ada hasil sebagai berikut
Pegiat Qaryah Thayyibah memiliki kemampuan menuliskan gagasan, pemikiran dan melaporkan kegiatan-kegiatannya melalui media-media milik organisasi dalam bentuk-bentuk tulisan yang mudah di pahami pembaca.
  1. Kader dari paguyuban memiliki kemauan dan ketrampilan melaporkan kegiatan dan menyampaikan gagasan pada media organisasi.
  2. Media milik organisasi hidup kembali.


SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :