Editorial April: Selamatkan Lingkungan Hidup


    Zaman berubah, lingkungan desa semakin mengkota. Wajah desa yang selama ini terkesan hijau sunyi nan eksotik, kini semakin hingar-bingar dengan lampu dan bermacam alat transportasi yang hilir-mudik. Perubahan wajah desa ini, di satu sisi menjadi berkah namun disana-sini justru menambah permasalahan yang sebelumnya tidak pernah dikenal; bahaya sampah, polusi air, dan degradasi lingkungan.
  Dalam kemegahan perubahan sosial pedesaan kaum muda menjadi golongan yang maju memperkenalkan kebaruan-kebaruan dari luar untuk dibawa ke dalam. Mobilitas kaum muda yang tinggi memperkenalkan mereka dengan berbagai teknologi terbaru. Pemuda menjadi lokomotif ke arah mana desanya akan dibawa kelak. Mampukah pemuda desa melakukan inovasi dengan teknologi yang ramah lingkungan, menjaga warisan dan kearifan lokal tanpa ketinggalan zaman? Adalah tugas maha berat yang suka atau tidak suka menantang mereka ke depan.
    Desa masa lalu adalah potret kehidupan feodal dimana pertanian menjadi pola produksi utama. Pola sosial patron seperti hubungan ayah dan anak masih dipelihara. Namun kini, desa tidak lagi kolektif dan semakin heterogen. Tarik-menarik gairah industri, semakin menyeret-nyeret mereka pada moda produksi berbasis mekanis yang bernama kapitalisme. Tak pelak lagi, modernisasi desa kalau secara gegebah diadopsi tanpa pertimbangan matang berakibat ketidakmemerataan pendapatan sambil meninggalkan kerusakan LH yang semakin parah.
  Dengan semangat penciptaan masa depan Lingkungan perdesaan ini sengaja dalam bulan April, rubrik Caping LSDPQT mengangkat berbagai liputan, artikel, dan sastera pilihan terkait lingkungan hidup. Dengan tema lingkungan ini, Caping bermaksud secara tajam mengangkat segi positif dan negatif perubahan sosial. Bagaimana efek materiil dan spiritual yang diakibatkan semakin mengkotanya lingkungan desa di kawasan-kawasan kerabat LSDPQT? Apakah faedahnya dari beroperasinya roda bisnis menggusur hutan-hutan dan tanaman keras menjadi lapangan-lapangan perumahan, kantor dan jalan-jalan? atau alih-alih menolak, justru kita harus menarik diri kebelakang dan bersikap sederhana sebagaimana kakek-nenek kita? Keep enjoy the Caping and Wallahu a'lam bisshowaab..   
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar :

catur rizaldianto said...

Terima kasih atas informasinya. Semoga sukses selalu.
http://grosirsponmandi.klikspo.com/

catur rizaldianto said...

Terima kasih atas informasinya. Semoga sukses selalu.
http://grosirsponmandi.klikspo.com/