Kunjungan Max Lane di SPPQT

Max Lane, penterjemah buku tetralogi karya Pramoedia Ananta Toer, berkunjung ke Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah, rabo (16/1). Kedatangannya didampingi istrinya, Faizah, yang adalah seorang aktifis gerakan perempuan. Max datang sekitar tengah hari dan ngobrol lama dengan jajaran DPS SPPQT yang kebetulan baru saja menggelar sebuah rapat. Ada beberapa pandangan penting Max Lane yang disampaikannya dalam kunjungan tersebut dalam perbincangan dengan para ketua, sekjen, dan kesekretariatan SPPQT. Diantaranya adalah pandangannya mengenai keanehan di Indonesia itu sendiri. "Indonesia itu tidak ada partai yang benar-benar tumbuh dari bawah". Begitu komentarnya tentang keberadan perpolitikan di Indonesia saat ini. Terkait dengan kondisi petani di Indonesia, khususnya di wilayah SPPQT Max berpendapat bahwa kondisi kemiskinan petani ini salah satu penyebabnya adalah system politik yang memang tidak berpihak pada petani. Max melanjutkan bahwa system di lahirkan dari perwakilan di DPR, perwakilan berangkat dari partai dan dipilih oleh rakyat. jadi muter seperti itu. Dari kondisi tersebut Max berpendapat bahwa dibutuhkan skill dan ketrampilan politik yang lebih untuk bisa mengatasi kondisi dan persoalan di Indonesia. Ini kalau indonesia memang mau berubah dari kondisi sekarang ini. Ini adalah PR besar bagi parpol dan rakyat indonesia pada umumnya. Dengan mulai bergairahnya gerakan buruh di Indonesia Max berharap akan ada partai dari golongan buruh yang bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Dari situ diharapkan kalau partai benar-bebarn berangkat dari bawah maka akan ada perubahan perpolitikan di Indonesia. Pandangan max tentang petani Selain itu Max berpandangan bahwa kemiskinan di desa petani terjadi karena keterbatasan desa memenuhi kebutuhan penduduknya, sehingga mau tidak mau mereka harus ke kota. "Kekuatan desa tidak mampu menopang kebutuhan seluruh penduduknya," demikian paparnya. Berangkat dari hal tersebut maka menurutnya urbanisasi kemudian menjadi hal yang tidak terhindarkan. Dalam pandangannya penduduk desa harus dikurangi bila desa diharapkan bisa memberi kesejahteraan bagi penduduknya. Hal ini karena kekuatan desa memang berbeda dengan kota baik kegiatan ekonomi, fasilitas umum, fasilitas pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya. "Salah satu jawaban untuk kemiskinan di pertanian adalah jumlah penduduknya harus lebih sedikit." Demikian ia menandaskan. Dalam perkembangannya industri di Indonesia memang berkembang. Namun kemudian yang tumbuh adalah industri manufaktur yang sebenarnya kurang begitu berpengaruh pada peningkatan kesejahteraan petani. Karena prakteknya tetap tidak bisa menjual barang produksi dengan harga murah. "Dan industri semacam itu sebenarnya kurang dibutuhkan", katanya. Ada saran dari Max terkait dengan pemuda tani di SPPQT agar mulai membiasakan membaca. Koneksi internet dipandang sebagai sarana agar tersedia bacaan murah tanpa haru sbeli buku. "silahkan membaca agar petani muda tidak terisolasi, dan bisa mengikuti perkembangan", katanya.
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :