Menjaga Pematang


Lampu-lampu sebentar lagi mati. Malam temaram, tak lama lagi pagi, Rizal belum selesai mencabut rumput yang tumbuh meninggi di sawah. Rizal sudah bertani sejak 4 tahun lalu. Ia harus mengganti peran menjadi ayah untuk adik-adiknya yang masih tiga orang dan kecil-kecil; Menik, Indra dan Si ragil-Salman.
Di Desa Awis Artho, Rizal sekeluarga dan ratusan kepala keluarga secara turun temurun tinggal. Setiap pagi desa tersebut selalu sepi dan sunyi seperti makam. Ditambah Letak desa Awis Artho yang memang jauh dari keramaian, masih 10 kilo dari kota kecamatan. Kalau malam dilihat dari kejauhan desa itu seperti tak pernah ada karena tertutup hutan-hutan jati yang masih terjaga rapi. Sebab walaupun listrik sudah masuk sejak sekitar tahun 1995 lalu, tetap saja lampu-lampu jalan masih asing dijumpai.

 
Menjadi petani awalnya suatu kutukan baginya. Rizal, pemuda yang cerdas dan ingin melanjutkan sekolah sampai perguruan tinggi, Ia ingin menjadi seorang dosen seperti pak Dhe-nya. Pak Dhe-Kardi yang sangat dibanggakan oleh orang se-kampung, karena berkat sumbangan yang cukup besar dari pak Dhe-nyalah kampungnya kini jalannya ber-aspal. Namun, mimpi Rizal untuk bisa seperti pak Dhe Kardi hanya benar di mimpi saja. Ia terputus sekolah tak lama pasca ayahnya yang meninggal tersambar mobil sewaktu pulang menyeberang jalan sehabis dari sawah. Rizal harus menerima keputusan pahit menjadi petani mewarisi garis ayahnya, seorang petani bloko (JW.).
***
Menjadi pemuda yang masih tinggal di desa dan bekerja bertani membuat Rizal tak kunjung kaya. Apa yang ia punya hanya warisan tanah yang beberapa petak dari Alm. ayahnya, apa yang di hasilkan Rizal hanya cukup untuk konsumsi keluarga dan sedikit sisa untuk dijual ke pedagang beras. Uangnya ia berikan kepada ibunya -Marsiyah yang mengatur keuangan. Kalau membandingkan teman seusianya apalagi, Rizal tidak masuk dalam jajaran kategori pemuda sukses.
Almarhum Ayah Rizal seorang berprinsip baja. Salah satu wejangannya yang masih ia ingat pernah berwejang, “Jangan pernah mengeluh, meminta belas kasihan, dan syukur-syukur bantulah tetanggamu yang kesusahan” katanya. Wejangan tersebut barangkali adalah hartanya yang paling berharga kini, dan memotivasi tindakan Rizal dalam hidup bermasyarakat di desa Awis Artho. Dengan prinsip tersebut Rizal selalu siap setiap orang yang kesusahan minta bantuan, “Nggih, Insya Allah”, Rizal seringkali mengucapkan kata ini. Rizal persis seperti Almarhum ayahnya, meskipun tak berpunya Ia populer di kalangan warga karena sangat enthengan (Jw.).
***
Seperti halnya 6 tahun yang lalu. Desa Awis Artho membuka pendaftaran calon kepala desa  untuk menggantikan pak lurah Karjo yang kini sudah habis masa jabatannya. Pak Lurah Karjo selain lurah adalah dukun Pijat terkenal yang terkenal akan kesaktian dan kekayaannya di desa Awis Artho, Kecamatan Urip Pait. Jangan kagum kalau Rumah pak Karjo berbeda dengan kepunyaan tetangganya, sangat luas dan bertingkat dengan cat warna-warni. Namun begitu, kekayaan dan kesaktian yang abnormal ini yang membuat masyarakat Awis Artho merasa jengkel. Maklum saja, lurah Karjo dalam setiap bicara tak lepas dari pangkat, koneksi, dan martabat yang akhirnya membuatnya berjarak dan  enggan untuk bermasyarakat.
Atas inisiatif warga yang berembuk di berbagai ruang; masjid, warung kopi, sawah. Akhirnya ditunjuklah pak Carik untuk mewakili aspirasi warga Awis Artho yang menginginkan Rizal maju mencalonkan diri menjadi calon Kades Awis Artho. Kedatangan pak Carik ke rumah Rizal awalnya ditanggapi secara gagap oleh keluarga terutama ibu Rizal, “Apa anak saya pantes?” begitu katanya kepada pak Carik yang sore itu diantar anaknya. Namun, berkat keahlian persuasinya akhirnya pak Carik meyakinkan Rizal dan ibunya dengan mengatakan bahwa, “Hanya Rizal-lah yang memiliki modal sosial yang sanggup mengalahkan pak Karjo”.
Setelah proses pendaftaran, lulus seleksi administrasi, Rizal melakukan kampanye yang seluruhnya ditanggung oleh warga masyarakat Awis Artho (selain pendukung lurah Karjo). Setelah kampanye berakhir, tahapan berlanjut, tibalah hari pemilihan Kades. Pak Karjo yang saat itu memakai baju kotak-kotak mirip Jokowi duduk berdampingan dengan Rizal yang saat itu tak kalah memakai batik terbaik, hadiah dari pak Carik. Dilihat banyak warga, Pak Karjo mengumbar senyum dan sambil matanya tajam menatap sabet-sabet (tim sukses)-nya di luar lapangan. Berbalik dengan Rizal yang masih tak percaya bahwa Ia-lah yang duduk di kursi calon itu.
Setelah pukul 12.00 Panitia Pemilihan Kepala Desa menutup waktu pemilihan kepala desa. Setelah Ishoma acara dilanjutkan dengan pembacaan tata tertib dan penghitungan suara. Gemuruh suara kaum sabet, botoh (petaruh) serta  warga yang hadir menyaksikan acara tersebut membahana ke seluruh ruangan pemilihan. Pun dengan dukungan yang kuat, namun setelah proses penghitungan yang menegangkan hasil pemilihan tersebut menghasilkan kemenangan yang tipis terpaut 8 suara (722 - 714) untuk kemenangan  incumbent. Dengan hasil tersebut Warga Awis Arto masih tak percaya namun dengan rela terpaksa harus menerima. Setelah penghitungan selesai, kedua rival besalaman dan masing-masing pulang ke rumah. Esoknya, kehidupan masyarakat desa Awis Arto berjalan seperti biasa, bekerja ke lading, sawah seperti sebelum ada Pilkades. (AB)
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar :

Muhlisn Muhlisin said...

Dadi kelingan Arif Burhan... :)